Langkah kakiku gontai, air mata masih tertahan di pelupuk mata…Tangan kananku dipegang erat oleh seorang pendeta perempuan, kak Rut. Sedangkan di depanku, berjalan pendeta laki-laki yang lebih suka kupanggil “ayah”.

Mereka memakai jubah hitamnya, sedangkan aku memakai kaos putih yang kusembunyikan di balik cape hitam. Aku tidak tahu kenapa mereka membawaku buru-buru begini. Padahal tadi kami sedang asyik diskusi perihal materi iman.

Aku tidak mau menduga-duga siapa yang ada di depan gerbang gereja sekarang. Aku cuma mendengar sedikit suara gaduh dari ponsel ayah. Dan tak lama kemudian, mereka menarik tanganku.

“Miryam….?” Ucap seorang lelaki berkemeja

“Ismail?” Tanyaku heran. Lama sekali aku tidak melihat anak ini. Terakhir bertemu saat masih sama-sama bekerja di Accrington.

“Saya akan menikahimu malam ini juga. Bisakah kau keluar dari gereja saat ini juga?” Tanyanya, membuatku syok.

“Maksudmu apa ya datang-datang begini?” Tanyaku.

“Saya sudah berbicara dengan bapak pendeta selama 2 pekan. Saya meminta ijin untuk menikahimu dan beliau memperbolehkan.” Ujar Ismail.

“Maaf Ismail… kamu sebaiknya sekarang pulang. Aku sedang sibuk. Ayah, maaf… saya tidak mengerti ada apa ini. Saya tidak bisa bicara apa-apa. Sebaiknya ayah minta orang ini pergi.” Ucapku, sembari meninggalkan mereka.

Saat badanku berbalik. Tiba-tiba segala kesedihan masa lalu seakan terputar di memori. Alasanku pergi ke Accrington, kemudian kembali ke Indonesia. Semua itu kembali terputar.

Cerpen Kosakata, Cerpen Katarsis, Theophany
Cerpen Kosakata/Komunitas Sastra Katarsis/ Theophany

“Miryam…. Bukan di sini tempatmu! Sadarlah Miryam! Iman itu punya bentuk dan rasa! Jika bapak Pendeta saja mengijinkan aku menjagamu, kenapa kau menolak kunikahi?” Teriak Ismail. Aku tak gentar, tak menoleh sedikit pun. Aku terus berjalan, kembali menuju ruangan di mana sejak jam 4 sore tadi aku mendapatkan bimbingan dari dua pendeta yang kini sudah seperti keluargaku sendiri.

Aku tidak tahu apa yang dibicarakan mereka di luar. Tapi baru 20 menit kemudian, kak Rut dan ayah kembali. Kak Rut langsung menepuk pundakku. Sedangkan ayah terdengar menghela napas panjang.

Nak… dahulu, kakek dan nenekmu adalah jemaat yang sangat loyal dan baik hati. Ibumu juga pemuda gereja yang terkenal taat, baik hati dan populer. Dan tentu, Rut dan kamu adalah anak ayah. Tapi tahukah kau, iman tidak pernah berbohong walau sebutir debu. Kami adalah keluargamu. Tapi kami juga adalah pendeta. Kami bekerja melayani umat karena panggilan dari sang juru selamat.” Ucap ayah.

“Maksud ayah?” Tanyaku.

“Dalam tubuhmu tidak hanya ada iman kristiani. Benihmu juga berasal dari Khadafi, pemuda yang rela dikecam ratusan orang karena mengambil bunga gereja hingga benar-benar tercerabut.” Ucap Ayah.

“Sekarang ayah tanya, apakah kamu mencintai Ismail?” Tanya Ayah.

“Tidak! Saya mencintai Tuhan.” Ucapku.

“Tapi Ismail bilang kalian berpacaran?” Tanya Kak Rut.

“Pacaran kan belum tentu berakhir dengan pernikahan, bila memang setelah dijalani, tidak bisa mengubah bentuk hati.” Ujarku.

“Jadi, kamu tidak mau menikah dengannya? Oke… sekarang ayah benar-benar tidak bisa berbalik badan lagi. Jangan merengek minta nikah beda agama karena kesempatan ini hanya terjadi malam ini.” Ujar ayah.

“Hehehe ayah lucu. Memangnya aku ibu apa? Yang lemah imannya.” Ujarku.

Dalam benakku aku menghempaskan perasaan murung. Aku mau mengubur saja hal-hal indahnya. Seperti hari-hari itu, hari saat aku depresi di Accrington. Saat-saat di mana aku meninju pipi Ismail di kala mabuk.

Dulu, Ismail tinggal di flat sebelah flatku, kami tetanggaan. Aku nggak tahu kenapa tiap jam 11 malam dia berdiri di tiang lampu depan pintu flatku. Ya, kupikir maling jadi kutinju. Setelah berkali-kali menerima bogemanku akhirnya ia mengaku kalau ia berdiri di sana karena iba melihatku kesulitan memasukkan kunci ke lubang pintu.

Hingga 1 jam lamanya aku gagal melakukan dan akhirnya pernah ketiduran di luar. Dan pada akhirnya ia menyarankan agar aku ganti model pintu dengan fingerprint agar ia tak lagi menungguiku pulang dalam kondisi mabuk berat.

Saat aku harus pindah ke London, hubungan kami mulai renggang. Aku sempat sih bertemu dengannya di Underground, tapi ia sedang bersama teman perempuan berhijab, mungkin calon pacar barunya. Dan kemudian aku pulang ke Indonesia karena tidak punya alasan lagi untuk mengagumi keindahan sungai Thames.

“Cinta bisa mengalahkan iman. Tapi benarkah Yesus menginginkan bocah keras kepala ini menjadi dombanya yang hilang?” Celetuk Kak Rut.

“Hehehe… beratnya oh sungguh beratnya menjadi seorang kristen. Kenapa Yesus tidak menerimaku? Sedangkan aku selalu menangisinya. Bahkan saat meminum darahnya dan gila, aku merasakan kasih sayangnya.” Ucapku.

“Dia yang telah yang dibaptis kembali suci, hilang segala masa lalunya.” Cetus Kak Rut.

“Hmm… Kakak, apakah mabuk adalah perjamuan?” Tanyaku.

“Itu perangai. Substansi anggur adalah darah Yesus. Tapi substansi wine adalah minuman keras.”

“Jadi, kenapa kamu menolak Ismail? Bukan karena kesungguhan hatimu pada iman Kristen, kan?” Selidik Kak Rut.

“Dia terlalu baik untukku. Dan sepanjang hidup aku tidak akan pernah sanggup mencintainya. Aku di Inggris bukan untuk bekerja saja. Banyak waktu kulalui untuk melamun…. Dia hanya ada dalam lamunan dan ketidaksadaranku. Tidak pernah benar-benar masuk ke kehidupan dan hatiku. Kakak tahu kenapa denominasi gereja begitu banyak? Jalan menuju surga menjadi berlika-liku karena nafsu. Aku hanya ingin mati tenang di satu jalan yang kuyakini.” Ucapku.

“Kamu mengingatkanku pada sosok Ratu Elisabeth I.” Ujar Kak Rut. Matanya nampak berkaca-kaca di balik frame kacamata bolongnya.

“Sang ratu kebanggaan Britania Raya itu membekukan hatinya hanya untuk satu orang yang tidak akan pernah jadi nyata.” Ucapku sembari menyeruput teh yang dibawakan oleh ayah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WITA, aku pun pamit pada kedua juru kunci gereja sederhana yang telah berdiri selama 120 tahun ini. Keduanya adalah ayah dan anak. Mereka tinggal di perumahan belakang gereja. Sedangkan malam ini, aku kembali ke rumah. Memacu motor gedeku yang sangat tidak selaras dengan ukuran tubuhku yang mungil.

Aku adalah anak bungsu. Ayahku, Muhammad Khadafi sudah meninggal. Ibu memutuskan pindah ke Tangerang ikut mbak Tantya, kadang-kadang juga ke Bandung menginap di rumah mas Fatih. Ayahku Khadafi membuat kami semua belajar Islam.

Aku yang memiliki panggilan hati berbeda. Entah kenapa…Aku melihat cahaya-Nya selama aku berada jauh dari keluarga. Saat aku bekerja di luar negeri…Pendeta yang membimbing katekisasi bilang apa yang kualami adalah Theophany. Fenomena kehadiran Tuhan yang dirasakan manusia.

Jika iman memang memiliki bentuk. Aku ingin punya waktu lebih lama lagi tuk mencari bentuk paling sesuai dengan hatiku. Dengan demikian, Theophany yang kurasakan benar-benar sanggup membawaku sampai pada Tuhan.

Menurutku, segala jalan yang kutempuh harus menuju Tuhan. Dan semua makhluk merindukan asal-Nya… Aku rindu Tuhan… Bukan rindu Ismail.

Kosakata Sang Penulis

Cerpen Theophany ditulis Candrasengkala
Baginya, dunia adalah pohon yang tumbang. Kemudian manusia berlarian memunguti guguran daun dan bunganya. Sedangkan batangnya ditancapkan lagi ke dalam tanah, berharap tumbuh kembali menjadi pohon. Padahal saat pohon itu tumbang, akarnya tidak pernah tercabut dari asalnya.