Apakah kamu pernah mengalami cinta yang susah musnah? Walaupun sudah kabur sejauh-jauhnya, namun bumi dan langit mempertemukannya lagi dengan cara yang tidak terduga. Tentu atas Kuasa Allah yang tidak pernah dapat menyamai kehendak manusia.

Perjodohan itu misteri, kecuali dijodohkan, barulah ini story yang biasanya terjadi pada perempuan yang menyerah jadi lajang, demi menghindari dirinya jadi jalang. Mereka rela menyerahkan masa depan hatinya, untuk belajar mencintai laki-laki yang sebelumnya sama sekali tidak pernah dicintai. Meskipun berhasil mencintai, wujudnya berbeda, akan tetap terasa getir, sebab ruh terdalam sudah terlanjur terikat pada sosok lelaki lain.

Perempuan yang melajang karena apa? Lantas perempuan yang menjalang juga oleh sebab apa? Adakah yang dapat menjawab dua pertanyaan sulit ini? Jika ada yang bisa menjawab dengan jawaban yang memuaskan, niscaya ia tipikal manusia yang tidak pernah percaya pada sihir, zodiak, ramalan atau bahkan harapan dan mimpi.

Mereka yang masih memiliki jawaban dan alasan mengapa dirinya jadi lajang atau jalang, berarti masih memiliki pilihan atas dirinya sendiri. Panutannya adalah Free Will, bukan God Will atau Other Will. Mereka masih dapat berjuang walau hingga tetes darah terakhir. Hingga darahnya berhenti mengucur sesuai dengan riwayat kisah perempuan rusak dalam tarikh.

Cerpen Kosakata, Cerpen Katarsis, Cerpen Romance, Senandung Serenada dan Kenangan Merahnya
Cerpen Kosakata/Komunitas Sastra Katarsis/Senandung Serenada dan Kenangan Merahnya

Maksiat dapat menghentikan hujan turun dari langit. Sama saja dengan nasehat dari para Mama kepada anak gadisnya, bahwa sundal itu biasanya akan susah memiliki anak. Mereka para lajang jalang mestilah bertaubat nasuha dan melarikan diri sejauh-jauhnya. Mengubur nafsunya dan menikmati hidup dalam pengasingan dan kesunyian, hingga waktu yang ditentukan oleh-Nya.

Tapi pertemuan antara lelaki dan perempuan itu sudah pasti hitam dan putih, kecuali bila Allah menghendaki sebagai pertemuan yang suci dan indah. Maka benarlah nasehat Ibu Aisyah RA bahwa “pernikahan itu adalah perbudakan, maka nikahkanlah anak-anak perempuanmu dengan laki-laki yang baik.”

Melodi terdengar riuh di lubuk hati Senandung, gadis yang cintanya terpaut pada satu orang lelaki, meski hatinya terus-menerus berlabuh di lain hati. Hingga detik di mana ia tidak bisa lagi mendengarkan nada, sebab seluruh nada-nadanya meluruh jadi melankoli.

Ia adalah Senandung, yang cintanya ceria, lucu, konyol, romantis, menyebalkan, tapi juga menyedihkan. Senandung bukan aku, tapi aku sangat mengenal siapa itu Senandung. Sebab ia adalah satu-satunya gadis yang mampu merebut hatiku, meskipun terlambat dan melelahkan.

Gadis ini yang aku tidak pernah paham mengapa aku kesal tiap kali melihatnya di dekatku. Apalagi saat di dekatku ada orang lain. Rasanya aku tidak rela bila orang lain melihat kami berada di titik yang sama. Aku selalu mencoba kabur darinya karena kurasa otakku bermasalah. Gadis ini, bisa dibilang terlalu “tidak selaras” buat bersanding denganku. Tubuhnya kecil, sedangkan aku besar. Aku tak pernah membayangkan bahwa anak-anakku akan lahir dari rahimnya.

Gosip bergerak cukup cepat di kalangan cowok. Meskipun tidak secepat gosip dari lidah cewek. Maka sebagai salah satu cowok populer di lingkungan pergaulan, aku sangat menjaga tabiatku. Dalam soal asmara, aku hanya memilih berpacaran dengan gadis cantik yang selevel denganku soal popularitas. Ia haruslah sosok yang supel dan multitalent, setidaknya cewek yang bisa menyanyi karena aku ini seorang musisi jalanan.

Aku tertarik dengan dia yang bersinar di atas panggung atau mampu menari dengan luwes saat aku manggung. Ia haruslah cewek yang cerdas dan saat berdiri di sampingku tidak akan mengundang gosip dan cibiran.

Demikianlah tafsir atas selera asmaraku. Tafsir yang pada akhirnya patah karena ternyata jodohku tidaklah serta-merta sesuai kehendakku. Aku merasa depresi di kala kehilangan bintang yang terang demikian. Ia, gadis yang kuharapkan, tak lebih dari sembilu yang menusuk kalbu.

Dan aku pun tidak pernah menyangka bahwa perempuan yang sempat menarik akalku hingga tidak lentur lagi itu, ternyata ia adalah obat dari segala sakit hati. Aku tidak peduli kemampuan menyanyinya yang nol, toh musik dan lirik itu do’a yang tabu disuarakan perempuan.

Aku tidak rela bila dunia mendengar Senandungku bernyanyi. Cukup aku saja yang mendengarkan keluh kesahnya. Hanya perlu petikan gitarku saja untuk menumpahkan bait kesedihannya. Biarkanlah aku egois, hanya aku yang akan menjadi satu-satunya sumber inspirasinya. Meskipun ia protes, sebab aku datang terlambat. Di kala susah hatinya hanya tinggal sebutir biji sawi.

Apakah itu artinya cintanya padaku hanya sebutir biji sawi? Entahlah… kurasa lebih baik menumbuhkan sendiri biji sawi itu agar menjadi besar. Daripada memakan sawi yang sudah besar, lama-lama akan membusuk. Seperti cintaku di masa lalu, selalu membusuk. Hanya Senandunglah, nada asmaraku yang tidak pernah putus asa. Sebab ia adalah biji kecil yang aku tanam sendiri dan lihat prosesnya bertumbuh.

*     *     *

Gedung Pancasoka, 3 Januari 2018

Tema pernikahanku adalah merah. Itulah kenapa pemandangan hari ini serba merah. Tiap ujung ballroom di Gedung Pancasoka disulap dengan bara api. Ini kesepakatan kami, walau pernah kuprotes 68 kali karena pernikahan kami pada akhirnya malah mirip Imlek atau kedai fastfood yang menjadikan merah sebagai simbol kekuatannya. Lebih parahnya, hajatan kami mirip juga dengan hajatan politik karena sebagian besar tamu yang datang berasal dari partai politik, sebab aku adalah ketua dari sebuah organisasi sayap parpol.

Menurut Serenada, merah itu adalah kenangan kami yang berulang. Merah adalah bola matanya yang berkaca-kaca karena cintanya pernah ditolak olehku. Warna merah juga adalah pipinya yang bersemi karena kedalaman perasaannya padaku di masa lalu. Namun Serenada juga menganggap merah sebagai “diriku”. Ini sangat menyebalkan, bagaimana ia mendefinisikan diriku sebagai merah, padahal aku lelaki. Seolah-olah aku ini pemarah saja. Merah kan artinya pemarah?

Maka dalam balutan pakaian pengantin warna merah, aku dan dirinya kini duduk di singgasana ala raja dan ratu Nusantara. Kami memandangi tamu yang asyik menikmati makanan sambil mendengarkan alunan violin yang syahdu. Sesekali aku melirik ke arahnya, bertanya-tanya dalam batin “benarkah, bocah ini istriku?”

Ia tersenyum sarkastik padaku, meskipun bola matanya berkaca-kaca karena bahagia. Aku tahu ini adalah hari kemenangannya, tapi aku sama sekali tidak pernah menganggap bahwa pernikahan ini terjadi karena paksaan atau semacam “perjuangan cinta Serenada yang berhasil”.

Aku bukanlah lelaki yang mudah dibawa ke pelaminan. Tidak pernah ada perempuan yang membawaku ke pelaminan. Begitupun aku, tidak pernah membawa satu pun pacar-pacarku ke pelaminan. Hanya Serenada yang kubawa, karena aku menginginkan dirinya.

Bukan hal mudah mempengaruhi Serenada untuk percaya bahwa hari ini akan datang. Tadi, tepat jam 9 pagi aku mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Dan kini, jam 2 siang, aku duduk di sampingnya, sebagai suaminya. Sedangkan kemarin malam, kami masih melamun, mempertanyakan perasaan masing-masing. Mengingat kembali masa lalu yang andai saja bisa terulang.

“Nada… kenapa diem aja dari tadi?” Tanyaku pada Serenada, memecah keheningan. Tidak biasanya gadis kecilku ini diam. Meskipun wataknya pendiam, ia tidak bisa untuk diam di hadapanku, walaupun cuma 6 detik. Hanya di hadapanku ia menjadi cerewet.

“Nggak apa-apa. Aku nggak nyangka hari ini datang.” Ujarnya seraya menatap mataku. Jari jemarinya meremas jarinya sendiri. Aku pun meraih tangannya. Menggenggam jarinya yang dingin.

“Percayalah padaku bahwa ini barulah permulaan!” Ucapku, seraya meremas jari tangannya lebih kuat. Aku ingin meyakinkannya bahwa pilihan kami tidak salah. Dan pernikahan kami tidaklah terlambat. Entah kesedihan apa yang merasuki diri Nada, ia selalu berkata bahwa aku datang terlambat. Padahal hari ini, aku berusia 27 tahun, sedangkan ia 26 tahun. Ini usia yang wajar untuk menikah.

Sebenarnya aku masih tidak berani mengorek-ngorek masa lalu Serenada karena aku tahu masa lalu kami pahit. Aku yakin bahwa Nada adalah perempuan baik-baik, sebab aku pun lelaki baik-baik. Bila pun Nada sudah tidak perawan lagi, aku akan menerimanya karena di masa lalu aku sudah pernah mencium bibir perempuan lain yang bukan dirinya.

Aku datang untuk menyelamatkan kami berdua dari lembah nafsu dan kemalangan cinta. Aku tidak mau melihat Nada menangis lagi. Begitu pun aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku untuk mengoleksi 100 gadis cantik yang tidak pernah sedikit pun ingin kunikahi.

Kenapa Senandung Serenada yang kupilih? Oleh karena hanya ia satu-satunya gadis yang pernah kutaksir di masa mudaku, namun aku bungkam saja karena merasa ia tidak selaras, menyebalkan, caper dan kuper. Ini adalah rahasia besar dalam hidupku bahwa aku pernah tertarik pada Nada dan tidak mengakuinya hingga detik ini.

Aku masih membiarkan Nada bergelimang perasaan sedih sebagai “penakluk hati cowok terganteng di kampus”. Entah mengapa aku masih ingin melihat perjuangan cinta Nada merebut dan melunakkan hatiku. Karena saat berjuang, ia lucu dan menggemaskan. Cowok mengejar cewek itu hal biasa. Tapi kalau cewek mengejar cowok ini kan luar biasa? Walaupun memalukan.

Kurasa lamunan Nada di atas singgasana pelaminan kami terjadi karena alasan itu. Ia merasa bersalah karena merebutku dari barisan cewek di kursi-kursi tamu di hadapan kami. Cewek-cewek cantik yang bergumul di hadapan kami itu, sebagian besar adalah fansku di kala aku masih kuliah. Sebagian lagi adalah penggemarku di lingkungan kerja dan organisasi.

Air mata hampir keluar dari bola mata Nada, membuat lensa kontaknya seakan-akan hampir lepas. Aku meremas tangan Nada yang semakin dingin. Membuatku jadi bingung apa yang harus kulakukan.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku pada Nada.

“Nggak apa-apa. Tadi salah satu mantan pacarmu ngajak foto. Ia bilang nggak nyangka aku akhirnya jadi istrimu. Padahal aku udah dropout dari kampus.” Ucap Nada lirih hampir berbisik.

“Patricia? Hmm… sudahlah sayang, itu hanya masa lalu. Apa hubungannya pernikahan kita dengan dropout kuliah? Aku memang nggak menemukanmu di kampus, tapi aku menemukanmu di sudut paling terpuruk dalam hidupku. Kamu itu anugerah.” Jawabku berusaha menenangkan Nada.

“Apa kamu nggak malu punya istri seorang perempuan yang gagal di perguruan tinggi. Lihatlah tamu kita, semuanya adalah pejabat berpendidikan tinggi. Bahkan kamu juga calon pejabat, jika kita melihat kiprahmu di parpol sekarang.” Kata Nada, ucapannya semakin merendahkan dirinya sendiri.

“Aku justru yang malu padamu, Nada. Kini kamu adalah pengusaha yang sukses. Sedangkan aku? Aku cuma petugas partai, aktivis organisasi dan musisi jalanan. Aku justru bangga padamu karena kamu adalah istri yang baik. Ilmu pengetahuan kita itu setara. Jangan merasa pesimis begini dong, sayang! Kalau kamu mau, nanti kita bisa daftar kuliah lagi. Kamu kuliah lagi sampai lulus. Aku akan mendukungmu!” Ucapku, kugenggam erat-erat jemari istriku yang mulai hangat.

 “Benarkah?” Tanya Nada, bola matanya berbinar, sedangkan senyumannya merekah. Aku tahu ada penyesalan terdalam di diri Nada karena ia berhenti kuliah di tengah jalan. Aku tahu, istriku adalah orang yang suka belajar.

Aku tidak boleh membiarkan Nada diolok-olok begini oleh Patricia dan teman-teman kami di kampus dulu. Kenyataan bahwa aku dan Nada pernah kuliah di jurusan yang sama selama 4 tahun itu benar. Memang benar bahwa istriku memilih DO dari kampus pada waktu itu. Tapi aku tidak terima bila ada orang yang seolah-olah mengatakan kami tidak setara secara ilmu, paras, kedudukan, kekayaan dan hal lainnya. Nadaku adalah perempuan yang baik, hanya saja ia tidak seberuntung diriku yang berhasil memakai toga di akhir masa studi.

Kewajibanku justru mendukungnya untuk kuliah lagi, bila ia mau. Jika memang ia merasa pendidikan itu nomor satu bagi dirinya. Pasti ada alasan yang menyebabkan Nada mundur dari kampus. Alasan yang tidak pernah benar-benar aku mengerti karena Nadaku tipikal perempuan yang keras kepala dan seringkali bertindak tanpa takut rugi. Inilah saatnya aku menjaga Nada dan menuntunnya berjalan.

Aku menarik tangan Nada, mengajaknya beranjak dan berjalan menuju panggung musik di hadapan kami. Aku ingin menyanyikan lagu pertamaku untuk istriku. Lagu yang akan mengunci mulut pedas cewek-cewek penggemarku. Ini pertama kalinya Nada mendengar lagu baruku yang memang khusus kubuat untuk ditampilkan hari ini, di hadapan tamu-tamu yang mungkin saja tidak tahu diri. Tamu-tamu yang hanya melihat masa lalu, tanpa bisa merasakan masa kini dan masa mendatangku dan Nada yang semoga saja diliputi kedamaian dan keceriaan.

“Terima kasih saya ucapkan kepada tamu undangan yang sudah hadir di acara resepsi pernikahan ini. Pasti teman-teman di sini banyak yang bertanya-tanya tentang siapa istri saya yang cantik ini. Sedangkan sebagian lagi sudah mengenalnya. Istri saya bernama Senandung Serenada, seorang perempuan yang telah menginspirasi hidup saya. Ia adalah teman kuliah saya di masa lalu, namun sayangnya kami harus berpisah jalan, sebelum akhirnya dipersatukan kembali. Tidak nyaman rasanya membicarakan masa lalu, tanpa mengarah pada masa depan. Saya bersyukur Allah mempertemukan saya lagi dengan gadis cantik ini, dengan calon ibu dari anak-anak saya. Ijinkan saya untuk menyanyikan lagu terbaru yang khusus saya buat untuk istri saya tercinta, Senandung Serenada.” Tuturku panjang, sembari memegang bahu Nada. Kusuruh ia duduk di kursi, sedangkan aku berdiri mengalungkan gitar ke leherku.

Tepuk tangan riuh dan sorakan bersahutan di antara para tamu. Paling ramai tentu saja adalah para alumni, teman-temanku dan Nada di kampus dulu.

“Judul lagunya, Gadis Kecilku” Ucapku sebelum mulai intro gitarku.

Hey gadis kecilku

Ingatkah kau padaku

Yang berdiri malu-malu

Di belakangmu

Kini aku di sampingmu

Tak lagi malu-malu

Ucapkan cinta ribuan kali

Sebab kusuka padamu

Hey gadis kecilku

Hapus air matamu

Karena aku di sini menjagamu

Sepanjang hidupku, selama-lamanya

Kini aku bersamamu

Jangan menangis, tersenyumlah untukku

Senyumanmu bahagiaku

Genggam erat tanganku, kita bersama lalui segalanya

Tepuk tangan membahana seisi gedung. Istriku tersenyum mendengar lagu ini. Sedangkan teman-temanku nampak sumringah dalam jeritan bahagia. Aku menatap ke arah wajah Patricia sambil menuntun tangan Nada yang sudah hangat. Entah bagaimana cewek itu bisa datang kemari, padahal tidak kuundang. Mungkin ia hadir dengan mendompleng para alumni atau anak-anak organisasi yang memang kuundang semua, tanpa pandang bulu.

Sebetulnya tidak hanya Nada, aku tahu ada banyak hati yang patah hari ini. Bahkan kurasa hatiku pun hampir patah, tapi kupertahankan dengan kepercayaan diri berlebih. Bila aku kedatangan Patricia sebagai tamu tak diundang. Istriku justru dengan bangga mengundang Kris, seseorang yang sangat kubenci saat kami masih sama-sama kuliah.

Ia bukan dari jurusan yang sama denganku dan Nada, namun aku sering melihat ia berduaan dengan Nada di perpustakaan. Mungkinkah mantan pacarnya? Kapan-kapan saja aku tanyakan pada Nada. Aku bukan tipikal cowok yang terang-terangan pencemburu. Toh, kalau urusan cemburu-cemburuan, harusnya Nada lebih cemburu daripada aku karena koleksi mantanku jauh lebih banyak.

Tapi sebagai cowok jantan, rasanya tetap penasaran. Mumpung kedua belah pihak di sini, lebih baik aku hadapi langsung saja mereka. Maka usai menyanyikan lagu persembahan untuk gadis kecilku itu, aku pun turun panggung. Mengajak Nada berjalan menghampiri laki-laki bernama Kris itu. Aku ingin melihat bagaimana respon Nada kalau aku beginikan.

“Hey, bro! Makasih ya udah dateng. Lama banget nggak ketemu. Kerja di mana sekarang?” Tanyaku basa-basi, seraya menyalaminya.

“Hmm, iya memang, ya mungkin sudah 4 tahunan kali ya nggak ketemu. Atau memang kita nggak pernah kenal, bro?” Jawabnya justru dengan pertanyaan.

“Hehe… yang benar saja. Kamu kan Kris, mantan ketua BEM fakultas, siapa yang nggak kenal? Walaupun kita nggak pernah ngobrol dan kenal, tentu aku tahu.” Ujarku. Kulihat Nada masih membisu, tapi senyum-senyum melihat kami mengobrol.

“Ah, ya… Fidel… mantan cowok terganteng sekampus. Akhirnya kamu berhasil ditundukkan juga sama bocah ini!” Ujar Kris sambil menepuk-nepuk bahuku. Nada tampak tertawa melihat obrolan kami.

“Tundukkan? Hehe, yang bener aja. Aku itu bukan seseorang yang mudah ditundukkan. Singkatnya, inilah yang namanya dijodohin sama Tuhan, Bro!” Ucapku meluruskan wacana ditundukkan. Ini benar-benar terminologi yang parah dan payah buat mendefinisikan hubungan kami.

“Okelah… aku kerja di Inggris sekarang sebagai tukang cuci piring. Aku juga lanjutin kuliah di Birmingham, beasiswa S-2.” Kata Kris dengan bangga. Aku tersenyum kecut. Sedangkan Nada berbinar-binar ikut bangga.

“Inggris? Wah, hebat dong. Jangan kuliah terus, bro! Move on! Cobalah cari istri. Bule juga boleh!” Seruku menantang dan menegaskan. Aku merasa perlu ucapkan kata move on di hadapan mantan pacar Nada yang dapat undangan ke resepsi ini.

“Ya, memang sulit move on dari gadis secantik dan sebaik Nada.” Kata Kris menantang balik.

“Oh ya? Kamu pernah pacaran sama istriku dulu? Kulihat kalian sering berduaan di perpustakaan, dulu! Dan lagi, kamu tinggal di Inggris. Mantan pacar Nada yang terakhir katanya dari Inggris.” Tanyaku sekaligus, rasanya pertanyaan ini akan memecahkan tanda tanya besar yang nancap di kepalaku.

“Hahaha… lebih tepatnya kami pernah dijodohkan. Aku ini sepupu jauhnya Nada!” Kata Kris, membuatku semakin bingung dan pusing mendengarnya. Aku jadi menyesal, kenapa tidak dari dulu saja kenal Nada, dekatin Nada, jadi tahu semua tentang keluarganya dan masa lalunya.

 “Tapi aku bukan mantan pacarnya. Aku menolak perjodohan itu karena Nada seorang muslimah, sedangkan aku Kristen. Kurasa pernikahan beda agama itu rumit. Apalagi aku dan Nada sama-sama spiritualis. Kalau kamu penasaran siapa mantan pacar Nada yang di Inggris, sebaiknya kamu tanyakan langsung sama Nada. Aku sendiri nggak tahu karena konon mereka cuma pacaran selama 12 jam.” Papar Kris, membuatku terperanjat.

“Apa? 12 jam?” Tanyaku, hatiku membuncah dipenuhi perasaan bahagia dan kemenangan. Akhirnya terjawab sudah misteri di balik mantan pacar bule istriku. Mantan yang bikin aku dan Nada bertemu di sebuah karaoke, sambil gila.

Kalau hanya 12 jam, mengapa Nada bisa segila itu? Apa yang ia lakukan dengan mantan bulenya? Aku penasaran, tapi aku akan timbun dulu rasa penasaran ini karena hari pernikahanku dan Nada baru terjadi beberapa jam. Lagipula aku tidak terlalu peduli pada masa lalu. Aku ingin hidup baru yang seutuhnya baru, bersama Nadaku tercinta.

*     *     *

Menuju Malam Pertama di Pantai Tanpa Sunset, 4 Januari 2018

Ini adalah keinginanku sendiri. Pokoknya prosesi ijab kabul, resepsi dan segala urusan menjamu tamu harus selesai di tanggal 3 januari, sehingga di tanggal 4 nya aku bisa langsung mengajak Nada bulan madu. Menikmati malam pertama kami. Membuka tabir sejati tentang istriku, jiwa raga.

Nada meminta agar malam pertama kami terjadi di sebuah hotel, di tepi pantai tanpa sunset. Di kala banyak orang senang dengan pemandangan matahari tenggelam, istriku justru ingin pemandangan tanpa matahari terbenam. Dan sulitnya lagi, lokasinya tidak boleh berada di pulau Jawa, Kalimantan, Bali, Lombok maupun Sulawesi. Nada juga menolak bila diajak ke luar negeri karena ia bilang belum saatnya. Maka aku putuskan membawa Nada ke Papua, mencari pantai tanpa sunset di sana. Namun ia menolak lagi karena Papua kejauhan.

Aku semakin bingung harus mengajak Nada ke mana. Pakaian sudah dipack semua dalam koper. Mobil dan sopir yang akan membawa kami ke bandara juga sudah standby di depan rumah Nada yang lengang dengan hanya terpasang tarub kecil dan janur sebagai penanda hajatan nikah dan untuk menjamu para tamu yang mungkin saja datang ke rumah orang tua Nada.

Nada senyum-senyum nakal, kalem tapi menyebalkan seperti biasanya. Dalam balutan dress putih yang cantik, ia nampak lucu di mataku. Aku pun mendekat padanya yang kesusahan menenteng koper dan menggendong ransel kecil.

“Jadi mau ke mana, sayang? Diajak ke mana-mana kok nggak mau, emangnya nggak mau ya bobo sama aku?” Ucapku lirih menggodanya.

“Huh… kamu ini! Ayo ke rumahmu aja. Aku mau tidur di kamarmu yang biasa kamu pakai buat tidur.” Ujar Nada seraya menyerahkan kopernya padaku.

“Hah? Kamarku? Rumah mertuamu maksudnya?” Tanyaku lagi. Kadang-kadang aku sulit mengerti jalan pikiran Nada. Bagaimana bisa ia memilih rumah mertuanya sebagai tempat malam pertama?

“Bukan!!! Kontrakanmu di Jalan Perjuangan itu! Masih kamu pakai, kan?” Tanya Nada, semakin membuatku gemas padanya karena bingung dengan jalan pikirannya. Dari dulu, cewek-cewekku kalau diajak jalan-jalan jauh pasti bersemangat. Nada malah sebaliknya, malam pertama kok di dalam kontrakan. Apa indahnya?

“Rumah itu udah aku beli. Jadi itu rumah kita sekarang! Tapi kosong selama ini, cuma ada bu Markonah aja, PRT yang bersih-bersih.” Kataku menjelaskan.

“Oh… kaya juga kamu, bisa beli rumah.” Kata Nada sembari memberikan jempol padaku.

“Oh, itu hasil main Youtube 1 tahun. Aku tabung buat beli rumah. Lagian kesempatan banget, mumpung dijual. Di sanalah sayang, dulu aku ngontrak bareng teman-teman kuliah.” Kembali aku menjelaskan sedikit tentang properti yang kumiliki. Tentu saja memang Nada baru mengetahui bahwa aku sudah punya rumah. Sebelum menikah sama sekali aku tidak pernah menceritakan keseluruhan hartaku, kecuali isi dompetku tiap bulannya. Nada tahunya aku selalu tidur di hotel, kontrakan, rumah ortu, sekre, basecamp atau mana saja karena aku cowok nomaden.

“Ya, aku tahu… Itu kontrakanmu dulu bareng geng cowok berbunga! Flower boy yang mencurigakan, hahaha!” Ujar Nada, mencibir sambil tertawa.

“Isssh… najis! Flower boy apaan? Jangan ngaco deh! Aku paling macho dan ganteng dong!” Kataku membela diri.

“Iyalah… tapi kurasa si Doni itu gay! Bukannya dia salah satu mantan pacarmu?” Selidik Nada. Aku mengernyitkan dahi. Mengapa Nada mendadak bawa-bawa isu gender. Aku terdiam sejenak, fokus nyetir. Sedangkan Nada nampak sangat serius dengan pertanyaannya ini.

“Astaghfirullah! Mana mungkinlah sayang aku gay! Jelas-jelas kita nikah! Jelas-jelas aku jatuh cinta padamu! Kamunya aja yang selama ini nggak nyadar!” Kataku membela diri lagi.

“Hah? Selama ini nggak nyadar? Emang sejak kapan kamu suka padaku? Bukannya dari dulu kamu selalu menghindariku? Kamu selalu bikin aku patah hati! Padahal aku sudah berkali-kali menyatakan perasaan padamu secara gamblang sampai jadi malu!” Kata Nada meninggikan suaranya. Aku tahu bahwa masa laluku dengan Nada memang panjang dan rumit. Meskipun kami sudah sepakat buat melupakan dan memakluminya, tapi tetap rasa penasaran selalu menggema di kepala dan dada.

“Kapan kamu nyatain perasaan padaku? Kamu itu pendiam… Di saat kita mulai dekat, kamu malah caper sama cowok-cowok lain di tim makalah kita! Lalu mendadak kamu hilang dari kampus!” Bertubi pertanyaan kembali meluncur dari akalku yang terusik.

“Sssssh… caper apaan? Kamunya yang cemburu paling? Ya, aku berkali-kali muncul di hadapanmu, memberimu kode, tapi kamu nggak pernah mau mendekatiku. Setelah aku keluar dari kampus, aku juga pernah hubungin kamu via Whatsapp, tapi kamu malah memaki-maki aku, bilang kalau kamu sudah punya pacar. Kamu sombong… apa kamu merasa aku jelek? Jadi nggak pantas jadi cewekmu?” Lagi-lagi Nada kumat gilanya. Perasaan rendah dirinya yang tidak pernah kusukai darinya. Mengapa ia selalu tidak percaya diri, menganggap dirinya jelek?

“Ya, memang kuakui, dulu saat kita masih kuliah, kamu itu kurus, putih, pucat, pendiam, benar-benar mirip hantu! Sedangkan aku terkenal sebagai cowok terganteng sekampus. Aku dikejar-kejar banyak cewek! Walaupun soal hubungan serius, aku juga punya pacar resmi yang kucintai dan jumlahnya tentu haruslah satu! Aku setia sama cewek, walaupun populer.” Ujarku seraya mengerem laju kendaraan karena lampu merah.

“Nah, itu kamu sendiri mengakui sekarang kalau aku jelek! Nggak sebanding dan selaras sama dirimu yang ganteng!” Ujar Nada semakin kesal. Padahal belum ada 24 jam ia jadi istriku, tapi karakter pencemburunya jelas sekali. Benar-benar merepotkan! Apakah ia akan bertahan hingga akhir hayat denganku? Tentu harus bertahan, maka aku harus sabar menjawab semua pertanyaannya.

 “Nada… kamu nggak pernah paham bagaimana perasaanku dulu, saat kita masih bersama di kampus. Kita memang nggak kenal, tapi diam-diam aku memperhatikanmu! Aku bukan orang yang suka memperhatikan cewek secara intens, apalagi menghindarinya! Kamu satu-satunya cewek yang diam-diam kulihatin, tapi kemudian aku kabur dan menyangkal.” Ucapku kembali menjelaskan.

“Aku tahu itu! Makanya aku frustrasi dan depresi! Aku tahu kamu diam-diam lihatin aku. Aku sadar, kok! Yang aku sesalkan, mengapa kamu nggak berani mendekatiku? Membiarkanku lebih dulu mengalami bertubi kisah pahit, sebelum akhirnya kita menikah.” Kata Nada semakin emosional. Kurasa aku perlu membimbing nurani Nada lebih halus dan sabar. Ia lupa bahwa perpisahan dan pertemuan dua insan itu terjadi karena Kehendak Allah.

“Aku selalu berdiri di belakangmu! Di sudut yang nggak tampak! Aku takut mengakui perasaan anehku karena kupikir ini bukan cinta, melainkan hanya simpati! Karena kamu dulu selalu sendirian, seperti nggak punya teman. Aku ingin menemanimu, tapi juga selalu di-intilin teman-teman cowok dan cewek. Aku nggak mau ada gosip di antara kita. Lagian waktu itu kamu kalau habis pelajaran di kelas, pasti langsung pergi ke kantin dan perpus bareng Kris, kalau nggak Jani! Sayang, kita dipisahkan dan disatukan karena Allah. Bersyukurlah karena sekarang kita bersama selamanya!” Tegasku, kembali membeberkan fakta kejadian.

“Ya, memang benar, sayang! Penundaan takdir kita cukup berat bagiku. Di hari perpisahan kita, sebelum aku DO, kamu juga nggak mau boncengin aku naik motormu pas acara makan di resto bareng dosen, padahal aku udah memintanya! Sungguh bikin malu! Nyebelin!” Lagi-lagi Nada ngambek. Rasanya introgasi begini lebih baik dijawab pelan-pelan, toh usia pernikahan kita masih panjang, sepanjang ruh melekat dalam jasad.

“Karena kamu lebih aman kalau berada jauh dariku! Dan karena takdir!” Jawabku sekenanya. Rasanya aku ingin bilang kalau saat aku melihat Nada diboncengin cowok lain, sedangkan aku berada di belakangnya. Itu rasanya aku kebul-kebul, ingin marah tanpa sebab.

“Kamu punya fotoku?” Tanya Nada lagi. Aku pun tertawa mendengar pertanyaan konyol ini.

“Ya, tentu aja! Kelakuan cowok juga seperti kelakuan cewek, mereka selalu menyimpan foto cewek kesukaannya. Aku punya fotomu. Kuambil susah payah, saat kita berjalan di tangga. Karena kamu kudet dan kuper, nggak punya akun medsos buat aku intipin, hehehe…” Ujarku sedikit bergurau. Kulihat Nada mulai senyum-senyum senang. Akhirnya, pecah juga sikap keras kepalanya.

“Tangga…?” Tanya Nada, sepertinya ia ingin memastikan moment apa yang sedang terjadi, ketika aku diam-diam memotretnya.

“Saat kita ke ruang dosen mau konsultasi makalah, aku membiarkanmu berjalan duluan di tangga. Supaya aku bisa melihatmu dari belakang. Aku memotret punggungmu! Kamu cantik kalau dari belakang, hahahaha…” Kataku dengan senda gurau. Nada tersenyum malu-malu, kesal dan cemberet. Ekspresinya campur aduk, akhirnya ia menabok-nabok lenganku.

“Ah, saat seminar proposal Jani, kamu datang, duduk di belakangku. Kata Jani, kamu senyum-senyum saat aku melontarkan pertanyaan di sesi pertanyaan. Benarkah?” Tanya Nada, semakin detail, membuatku semakin bingung karena aku lupa kejadian ini. Aku lupa ekspresi kejadian seminar itu. Tapi di sinilah aku menyadari bahwa Serenada memang stalker sejati! Dia juga penggemar fanatik diriku, garis keras!

“Sayang, gantian dong aku nanya! Apakah kamu masih perawan?” Tanyaku balik. Memecah keberisikan Nada. Ia mendadak terdiam. Cemberut, senyum dan emosinya tadi meredup. Aku tahu pertanyaan ini pasti sulit dijawab olehnya. Dan aku tahu, tidak seharusnya aku bertanya. Tapi ia kini adalah istriku, aku ingin mendengarkan kisah keperawanannya secara teoritis. Jika saja ini memang tidak menganggu hidup kami ke depannya.

Namun seorang sahabatku yang santri pernah menasehati bahwa menanyakan keperawanan gadis yang kita cintai sama saja membuka aib orang lain dan diri sendiri, sebaiknya tidak usah ditanyakan. Cukup disyukuri dan diikhlaskan saja apa adanya! Pasangan suami istri harus dalam kondisi taubat nasuha atas masa lalunya, terlepas dari baik-buruknya. Siap menyongsong hari ke depan yang bercahaya dan bahagia!

“Ya, tentu saja aku perawan. Sepanjang hidup aku hanya mencintai diriku sendiri dan bayangan imajinasi akan Fidel.” Aku terenyuh mendengarkan jawaban ini dan aku percaya. Justru pada detik ini aku merasa sangat berdosa karena tubuhku tidak lagi perjaka. Setidaknya bibirku, sudah pernah melumati bibir Patricia dan gadis lainnya.

“Apa yang paling kamu inginkan dari tubuhku? Ambillah malam ini!” Tanyaku. Ini pertanyaan yang sering ditanyakan cowok kepada ceweknya.

“Aku hanya ingin tidur di atas dadamu dan melepaskan lelah yang sudah merasuk ke jiwa raga, semenjak ruhku ditiupkan ke jasad! Akhirnya aku menemukan tulang rusukku, sumber dari energi kehidupanku sebagai kaum hawa.” Ucap lirih Nada sambil mengusap pipiku. Aku masih fokus nyetir, walau sedikit melayang-layang.

Pikiranku melayang, membayangkan ranjang. Kupikir sesampainya di Rumah Jalan Perjuangan, aku harus meminta bu Markonah memasang seprei terbaru dan parfum ruangan yang terbaik. Sebelum kamar malam pertamaku dibersihkan, aku ingin mengajak Nada masuk ke dalam ruang rahasiaku. Ruang yang barangkali akan membuka hati dan pikirannya untuk lebih jernih melihat takdirnya sebagai istriku.