Adakah seorang murid di alam semesta ini yang tidak mencintai gurunya? Sepertinya mustahil, seorang murid pastilah sangat mencintai gurunya. Hingga selalu mendengarkan petuahnya dan mengikuti arahan dan nasehatnya.

Guruku, beliau seorang pertapa kehidupan, sama sepertiku. Kami menghabiskan banyak waktu untuk bermeditasi dalam kesunyian ruang cermin.

Ya, cermin yang lebar, besar dan rapat. Sebuah cermin yang diam-diam memiliki skenario seperti tarik-menarik antara Muladara dengan Sahasrara. Pantas saja, jika meditasi dengannya, hidup ini terasa dingin, tentram dan nyaman. Meskipun rasa sunyinya begitu besar.

Guruku, pembangun istana spiritualku. Aku disempurnakan jalur-jalur pencarian jati diriku olehnya.

Aku ingin membuatnya bangga padaku, memiliki murid sepertiku. Jadi aku harus kuat melangkah maju. Apapun yang terjadi.

Rasa cintaku padanya itu rasa kagum dan hormat yang bersatu padu. Aku mencintai ilmunya. Mencintai perangainya. Dan mencintai pandangan hidup dan seleranya.

Ini bukan cinta yang sepele… Bukan cinta yang harus digugurkan seperti gugurnya daun-daun karma.

Sebab guruku adalah superheroku. Beliau adalah bunga yang mekar sangat harum. Cahaya yang berpendar sangat terang.

Beliau adalah guru dunia dan akhiratku. Guru bumi dan langitku.

Aku bangga padanya

Semoga suatu hari dia bangga padaku

Dan tersenyum melihat muridnya berhasil menggapai nirvana