Pemuda Bangsawan Surgawi, Komunitas Sastra Katarsis, Cerpen Kosakata, Cerpen Katarsis, Media Katarsis

Di sebuah desa terpencil di pedalaman pulau yang dipenuhi hutan belantara, hiduplah seorang perempuan yang cantik jelita. Ia memiliki kecerdasan ilmu pengetahuan dan keterampilan beladiri. Ia tinggal seorang diri bersama kakak perempuannya dan 3 orang kakak laki-laki.

Orang tuanya telah meninggal dan perempuan ini adalah si bungsu. Seluruh kakak-kakaknya telah menikah dan tinggal gadis ini saja yang masih sendiri, enggan tuk menikah.

Entah apa yang merasuki pikirannya hingga memilih sendiri begitu lama. Membuat sang kakak keheranan. Maka bertanyalah sang kakak pada adiknya.

“Pria seperti apa yang kamu cari, dik?” Tanya sang kakak.

“Aku mencari seorang pria yang tidak tertarik pada kecantikanku.” Ujar gadis itu.

“Jika begitu, berarti kawanku Mahesa Jenar sangat cocok. Terimalah pinangannya.” Ucap sang kakak sulung.

“Tidak… Mahesa Jenar sudah gugur karena aku telah mengujinya bahwa dia tidak akan pernah sanggup tuk mencintaiku dengan menutup matanya.” Tandas sang gadis dengan sangat yakin.

“Lantas, mau sampai kapan kau melajang? Kakak sudah janji pada mendiang ayah dan ibu untuk menjagamu. Ayolah ikut kakak tinggal di kota saja.” Bujuk sang kakak, mulai sangat pesimis dan khawatir akan masa depan adiknya.

“Tidak…. saya telah mendapatkan petunjuk dari Allah bahwa suatu hari akan datang seorang pemuda yang aku tidak akan pernah sanggup menolaknya.” Seloroh sang gadis.

“Seperti apa pemuda itu?” Tanya sang kakak makin penasaran.

“Dia adalah pemuda yang sangat mencintai ibunya, ayahnya, saudara-saudaranya dan keluarganya. Hingga ia tidak pernah tahu caranya mencintaiku selain dengan hatinya.” Ucap sang gadis dengan bola mata berbinar-binar.

“Pria seperti itu hanya akan menelantarkanmu saja, dik. Sebab hanya memikirkan orang lain tanpa memikirkan dirimu.” Cibir sang kakak sulung.

“Justru karena ia tidak bisa menjanjikan keadilan padaku, maka ia memohon pada Tuhannya agar memberikan keadilan bagiku. Sehingga aku senantiasa mencintainya dan mencintai orang-orang yang dicintainya.” Kata sang gadis cantik.

“Tidak…. kakak tidak akan pernah merestuimu untuk dinikahi pria yang tidak menomor satukan istrinya sendiri.” Sang kakak masih geram dengan angan-angan adiknya. Sebab ia tahu lelaki yang terlalu condong pada keluarganya sendiri cenderung abai pada istrinya sendiri.

“Berarti kakak telah melarangku untuk dinikahi oleh seorang bangsawan surgawi.” Protes sang gadis.

“Bangsawan surgawi?” Tanya kakak sulung keheranan.

“Ya…Tahukah kakak bahwa hingga ajal menjemput pun, seorang anak lelaki adalah anak dari ibunya. Maka pantaslah bila aku berharap suamiku selalu mencintai ibu kandungnya.” Tegas sang adik, membuat kakaknya mulai melunak hatinya.

“Ceritakan padaku tentang maskawin yang diberikannya padamu.” Tanya sang kakak. Meski hatinya lunak, ia merasa perlu menggali watak dari sang lelaki yang dikagumi adiknya tersebut.

“Dia memberiku sebuah pakaian yang tidak pernah ada duanya di bumi maupun langit. Pakaian ini dibuat khusus oleh Tuhan kepada istri yang setia dan patuh pada suaminya. Istri yang menjaga dirinya selagi suaminya pergi bekerja dan tidak ada di rumah.” Jawab sang gadis sembari berlinang matanya, sedangkan bibirnya tersenyum.

“Pakaian apakah itu? Sedangkan maskawin itu wajib berupa benda berharga dan sebaik-baiknya. Maskawin bukanlah ucapan dan harapan.” Selidik sang kakak.

“Pakaian ketakwaan yang sangat indah kukenakan di dalam sebuah rumah yang indah. Maskawinku berupa perhiasan yang terbuat dari batu-batu hitam berharga. Dan tentu, yang terindah adalah pakaian itu. Pakaian ketakwaan kami turun dari langit sepasang, untukku dan untuknya.” Ujar sang adik kepada kakaknya dengan perasaan bahagia. Batinnya seakan baru saja ditiupi embun dan minyak kesturi saat membayangkan betapa mewahnya sepasang pakaian idaman Adam dan Hawa ini.

“Ceritakan padaku tentang anak-anakmu.” Sang kakak bertanya lagi.

“Aku tidak memiliki kuasa tuk mengatakannya. Semoga anakku sesabar ibunya dan seulet ayahnya. Dan tumbuh sebagai anak yang soleh, berguna dan bertakwa. Semoga kami bisa membimbing mereka dan selalu jadi panutan mereka. Doakan saja, kak!” Tandas sang adik.

“Apa pekerjaan pemuda itu? Kakak tidak akan setuju jika dia tidak cukup mapan.” Tanya sang kakak sulung. Seakan tiada bosannya ia terus-menerus bertanya. Namun sang adik masih bersabar menjelaskan tentang ini semua.

“Apa yang dikerjakannya telah membuat tangannya sekasar pasir. Kulitnya sehitam serbuk kakao. Pandangan matanya seawas cahaya dan hatinya, memiliki rasa dan seluruh panca indera.” Jawab sang adik.

“Bisa kau jelaskan tanpa perumpamaan?” Pinta kakak.

“Hatinya hidup. Batinnya menyala. Ia memiliki telinga di dalam jiwanya. Sehingga ia akan mendengarku bicara dari jarak ribuan miles. Ketika dia pergi meninggalkanku untuk bekerja. Aku tidak akan khawatir merindukannya karena hatiku terhubung dengan hatinya.” Papar sang adik.

“Seperti apa pekerjaannya sih? Jelaskan lebih gamblang dong!” Sang kakak mulai protes karena adiknya terus-menerus memberikan perumpamaan.

“Dia sedang belajar membangun menara mercusuar. Ia pergi meninggalkan etnisnya dan memperoleh beasiswa dari menara mercusuar.” Terang adik. Sang kakak terlihat berpikir keras membayangkan rupa dari pemuda bangsawan surgawi itu.

“Apa itu menara mercusuar?” Tanya kakak. Gadis itu terdiam beberapa detik. Tapi sama sekali tak ada yang terlintas dalam benaknya selain pengetahuan bahwa menara mercusuar itu adalah sebuah menara penunjuk arah dari daratan.

“Mercusuar dibangun di lepas pantai untuk menjadi tanda navigasi bagi kapal-kapal yang lalu lalang bahwa daratan sudah dekat. Di puncaknya terdapat sumber penerangan yang di masa lalu dari api, namun di era sekarang dari lampu. Namun hakikat penerang mercusuar itu sama, yakni cahaya.” Demikianlah sang gadis menjelaskan pada kakaknya.

Sejak tadi kau selalu bicara kelebihannya. Jangan takabur, tidak ada manusia yang sempurna. Apa kelemahannya? Mungkin saja dia memiliki kelemahan.” Sang kakak bertanya terus-menerus. Gadis cantik itu pun beranjak meninggalkan kakaknya. Satu kalimat terakhirnya membuat sang kakak malah jadi ingin segera bertemu sang pemuda ini.

“Kelemahannya adalah diriku. Dan dirinya juga adalah kelemahanku. Kami yang dahulu keras, perlahan dilemah lembutkan hatinya oleh Tuhan untuk lebih membuka mata, melebarkan telinga dan menajamkan rasa. Sehingga lautan yang membentang dengan ombak ganasnya itu mungkin saja hampir habis diarungi batin dengan dibangunnya menara mercusuar. Maka kami yang sama-sama tak berkekuatan ini memohon pada Tuhan agar diberi kekuatan tuk menegakkan menara itu.” Ucap sang gadis. Sang kakak mulai kesal dan lagi-lagi hilang simpatinya pada sang pemuda.

“Apa kau akan menikah dengan seorang presiden? Kau membuatnya bagaikan seorang pangeran tak terkalahkan.” Protes sang kakak.

“Loh, kakak tidak boleh cemburu! Ya memang dia pangeranku. Memang inilah tugas istri yaitu percaya dan yakin bahwa suaminya akan kuat melangkah dan tegak berdiri. Jika aku yang di daratan hilang tekadnya dan lenyap semangat hidupnya. Bagaimana nasib suamiku yang terombang-ambing di lautan sedang belajar membangun menara mercusuar?” Tegasnya. Kali ini gadis itu benar-benar meninggalkan sang kakak yang masih bingung di serambi rumah. Tapi sang kakak tak menyerah. Ia masih sangat haus bertanya tentang calon adik iparnya ini. Ia terus meluncurkan pertanyaan demi pertanyaan.

“Baiklah… jadi kapan dia datang? Apa dia sudah pernah ke sini sebelumnya?” Tanya kakak serius.

“Dia akan datang pada waktu yang paling tepat. Waktu di mana aku tidak memiliki sebutir pun harapan serta impian. Sebab waktu itu adalah waktu untuk kenyataan terjadi, waktu di mana kun fayakun terjadi! Dia tidak pernah datang ke sini. Tapi malaikat sudah berkonvoi mengiringi kedatangannya. Parade malaikat yang berbaris mengiringi langkah kakinya. Mungkin beberapa malaikat itu tidak pernah nampak datang ke rumah kita. Karena mereka adalah malaikat yang diutus untuk khusus mendengar dan mencatat doa-doa pemuda itu.” Ujar sang adik. Ia kembali berlalu menuju kamarnya. Dan sang kakak terus mengejarnya.

“Ayolah dik… ini kan permasalahan sangat serius. Apa kau sedang berkhayal saja? Mana ada pemuda begitu. Sudahlah ikut kakak saja. Kaubisa bantu istriku merawat anak-anakku, kan? Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian di sini. Kalau ada beruang masuk rumah gimana?” Tanya sang kakak dengan pola pikir sangat kekanakkan. Sang adik pun tertawa kecil.

“Aku punya satu permintaan.” Pinta sang gadis cantik.

“Apa itu?” Selidik sang kakak dengan suara keras, dari balik pintu kamar adiknya yang terkunci.

“Sebelum kakak pergi, pastikan kakak menambah kekuatan panel surya itu karena di masa depan, rumah ini akan menjadi sebuah pusat studi teknologi. Jadi aliran listrik di sini harus selalu stabil.” Ujar sang adik.

“Jadi apakah pemuda itu seorang ahli teknologi?” Sang kakak bertanya lagi.

“Ya, ilmu pengetahuan dan karisma yang terpancar darinya tidak kalah dari almarhum BJ Habibie.” Celetuk sang adik.

Demikianlah obrolan adik-kakak tentang pemuda bangsawan surgawi. Apakah lelaki istimewa itu benar-benar ada? Ya tentu, ia berada di sudut alam semesta ini. Ia sedang berdiri di menara mercusuar. Ketika cahaya penerangan telah sampai pada puncaknya, niscaya ia akan maujud ke dalam rupa suami idaman sang gadis.

Kosakata Sang Penulis

Cerpen Pemuda Bangsawan Surgawi ditulis oleh Candrasengkala

Ketika dunia adalah sebuah pilihan yang membingungkan. Namun manusia dipaksa untuk memilih. Dan pilihan itu seolah-olah bagian dari kebenaran yang tidak dapat disangkal.

Tapi dapatkah sebuah momentum menunggu disebut sebagai pilihan yang terbaik?

Mungkin benar, manusia adalah Sisipus yang dihukum mendorong selamanya seonggok batu yang jatuh dari puncak gunung karena sang batu bergulir dengan sendirinya membawa segala beban takdirnya.