Kucing-Kucing Gaib, Komunitas Sastra Katarsis, Cerpen Kosakata, Cerpen Katarsis, Media Katarsis

Ada pepatah mengatakan pikiran adalah pedang bermata dua”, di satu sisi bisa menghidupi, di lain sisi bisa membunuh. Orang yang hidup karena pikirannya tumbuh sebagai manusia yang sederhana dan terbuka, membangun dunianya dalam kuasa. Sedangkan mereka yang dibunuh pikirannya, tumbuh menjadi manusia yang rumit dan tertutup, membangun dunianya dalam kepala.

Seperti pikiranku yang baru saja membunuhku, lagi. Melalui kucing-kucing liar yang mendadak jadi epidemi, mewabah, di mana-mana kucing. Masuk rumah hanya untuk buang kotoran dan menebarkan aura negatif. Kucing kurang ajar yang kejar-kejaran di genteng, kemudian jatuh kecemplung sumur. Padahal sumur itu adalah sumber kehidupanku.

Kucing memang hewan kesukaan banyak orang. Tapi mereka adalah musuhku, semenjak beberapa bulan belakangan. Pernah aku naik sepeda malam hari, di saat gerimis dan gelap, tiba-tiba kucing itu nyelonong di jalan. Alhasil ban sepedaku menabraknya. Saat aku mengerem, kucing itu lari menuju kegelapan. Aku deg-deg-an sekali, rasanya jantungku mau copot!

Pikiranku berlarian, menerka-nerka, jangan-jangan ini pertanda datangnya kesialan dan musibah. Aku jadi gelisah dan segera mendo’akannya. Aku minta perlindungan Allah dan mengirimkan banyak sekali lantunan ayat suci. Sungguh aku tidak sengaja menabraknya! Lagipula ini karena dia tiba-tiba muncul di pinggir jalan yang gelap tanpa penerangan.

Tapi beberapa lama setelah kejadian itu, aku masih saja berpikir, sepertinya itu bukan kucing beneran. Mungkin saja itu kucing jadi-jadian, peliharaan orang yang suka Merdukun. Kebetulan kucing kampung yang kulindas itu tepat berada di rumah orang yang terkenal “mempraktekkan perdukunan demi kekayaan, kemapanan dan gengsi sosial”. Atau ini hanya sekadar khayalanku?

Tiap kejahatan membutuhkan peralatan untuk melancarkan aksinya. Dari sekian banyak rumah yang bisa dipilih sebagai target aksi, kenapa hanya rumahku yang didatangi kucing-kucing brengsek itu? Apa karena aku tinggal sendirian? Karena mereka mau mengincar nyawaku?

Aku selalu penasaran siapa musuhku. Tega-teganya menebarkan aura negatif di sini. Di dalam kesunyian dan kesenyapan duniaku, aku jadi makin menderita karena paranoid ini. Membuatku tidak betah tinggal di rumah sendiri.

*          *          *

Malam hari yang ramai, puji-pujian berkumandang di langit usai adzan maghrib. Aku pun menyudahi kungkum air hangat di bathub. Setelah mengeringkan badan, aku menuju kamar, pakai baju. Lalu balik lagi ke kamar mandi, buat ambil air wudhu. Aku ingin sholat jamaah di mushola sekarang, jaraknya cuma 500 meter dari rumah.

Kucing-Kucing Gaib, Komunitas Sastra Katarsis, Cerpen Kosakata, Cerpen Katarsis, Media Katarsis
kucing-kucing gaib/cerpen kosakata.id/komunitas sastra katarsis

Jalanan sepi, jarang sekali kulihat orang sini sholat berjamaah, kecuali di bulan ramadhan buat tarawih. Sudah dipastikan kalau ada orang berjalan, itu adalah imam mushola dan istrinya.

Meskipun demikian, aku memilih berjalan di belakang mereka saja. Tidak menyusul untuk mendekat, apalagi menyalip. Sembrono rasanya, jalan kaki menyalip orang tua.

Orangnya mati, bu?” Sayup-sayup kudengar pak Imam bertanya demikian pada istrinya.

“Cuma patah kaki. Tapi pagar rumah yang ditabrak sampai ringsek. Darahnya mancur ke mana-mana. Ramai sekali kan kemarin orang datang ke TKP.” Ujar bu Salamah.

Aku mengangguk-angguk dan menebak. Pasti mereka sedang membicarakan kecelakaan tabrakan motor semalam yang terjadi di tikungan kompleks perumahan ini. Sudah kuduga, memang belakangan kompleks ini kurang aman. Di mana-mana aura negatif… Banyak ranjau pesugihan ditebar! Banyak orang Merdukun yang mencari mangsa dengan jalan menjijikan begini, korbannya tidak pandang-bulu. Siapa yang lagi apes, bakalan kena perangkap.

“Kejadiannya kan tepat jam seginian, pak! Pas sandekala… katanya anak SMP itu mabuk. Nah, korban yang satunya itu ibu-ibu yang ngebut, gas pol motornya.” Bu Salamah masih antusias menjelaskan.

“Ya,  iku kan wes kuasane Gusti Allah. Mulane nek numpak motor kudu ati-ati, eling lan waspodo!” Ucap pak imam. Sekaligus menutup sesi mengobrol mereka.

Sudah kuduga, mushola sepi. Hanya ada sekitar 15 orang. Perempuannya lima, sisanya laki-laki. Kami pun melaksanakan sholat maghrib dengan kusyuk. Sehabis sholat dilanjutkan dengan dzikir dan do’a bersama.

Sehabis sesi do’a bersama, banyak orang keluar mushola, kecuali aku, bu Salamah dan pak Imam. Aku melanjutkan do’a pribadiku. Mendo’akan almarhum orang tuaku dan kebaikan masyarakat sekitar perumahan. Aku juga memohon perlindungan untuk diriku sendiri agar diselamatkan dan dijauhkan dari fitnah dan sihir perdukunan.

Usai do’aku selesai, aku beranjak berdiri. Bu Salamah dan imam mushola masih duduk melanjutkan do’a mereka. Di luar mushola, beberapa pemuda laki-laki saling berkasak-kusuk, salah satu di antaranya adalah temanku.

“Hai, Ra…” Temanku menyapaku sembari mengangkat tangannya. Aku tersenyum, mengangguk.

“Hei…” Sapaku lirih sembari berlari kecil menghambur ke kerumunan beberapa pemuda kompleks itu.

“Eh, ternyata kemarin gue nanya, si Doni bocah yang tabrakan itu nggak mabok, kok! Dia emang kenceng bawa motornya. Nah, pas lagi kenceng-kencengnya dia lihat ada kucing hitam nyebrang dadakan. Refleks mau ngindar kan tuh, eh malah brusssh… crash sama ibu-ibu itu!” Kata Galih. Ternyata mereka sedang membicarakan kecelakaan itu. Nampaknya aku jadi satu-satunya orang yang ketinggalan berita terheboh ini.

“Hhh… biasa itu sih! Kan emang di sini lagi banyak kucing nakal!” Ujarku dengan nada maklum dan remeh. Aku melius pergi meninggalkan mereka, meskipun dalam hatiku terenyuh. Lagi-lagi kucing itu mencari tumbal nyawa. Untung saja korban kecelakaan tidak sampai mati, tapi kakinya patah, tah!

Belum selesai ngedumel dalam batin sendiri. Galih mengejarku di belakang sambil manggil-manggil namaku. Aku abaikan saja. Rasanya malas sekali mendengarkan ocehan Galih seputar kecelakaan ini. Membuatku semakin paranoid gara-gara kucing.

“Ra… kamu kenapa, sih? Sewot amat sama aku.” Tegur galih.

“Nggak kok, aku cuma lemes dan merinding denger kecelakaan. Makanya aku pergi!” Kataku menegaskan.

“Oh… iya sih, aku juga udah males ngebahasnya. Tapi, Ra… Aneh aja sih menurutku! Soalnya seminggu yang lalu pas lagi nyetir, aku juga hampir nabrak kucing. Untung sempet ngerem! Kucingnya lari, gede, warnanya loreng-loreng.” Ucap Galih meyakinkan, jantungku makin berdegup kencang.

“Hah? Serius? Wah… keterlaluan. Ini sih namanya teror. Kamu sadar nggak sih, perumahan ini udah nggak aman karena ada orang yang melihara kucing gaib!” Ucapku mengintimidasi Galih.

“Hahahaha… Ngarang aja sih… Kucing gaib apaan! Aku nggak percaya gitu-gitu. Ini cuma apes aja sih menurutku. Ya namanya orang celaka kan nggak tahu kapan.” Tapi Galih nampaknya tak percaya. Ya, mana mungkin juga bocah tengil macam ini bisa percaya akan adanya makhluk halus, sihir dan dunia kegelapan.

“Ra… Ayo kita selidiki soal ini! Aku sebenarnya sempat mikir ini ganjil. Dari dulu lingkungan sini aman-aman aja. Jangankan kecelakaan, orang kesandung pas lagi jalan aja nggak ada! Ini emang aneh.” Tutur Galih sambil mendelik ke arahku. Ia juga menepuk bahuku keras-keras.

“Aduh, kamu telat bilangnya. Aku senin besok udah balik ke Jogja, ada praktikum dadakan.” Kataku menyayangkan.

“Duh, berapa lama di Jogja?” Tanya Galih.

“Ya lama lah… Nggak tahu… Aku kan kuliah. Keknya 4 bulan lagi aku baru pulang ke sini.” Kataku seraya nyengir kuda. Meskipun mataku rasanya nanar, berat menahan emosi. Jauh di dalam hati kecilku ingin menangkap siapa pelaku kejahatan ini. Aku ingin membuktikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa seluruh tragedi ini memang disebabkan ulah kucing misterius yang minta tumbal nyawa.

“Loh, sekarang kan lagi liburan? Kenapa nggak di sini aja sih?” Tanya Galih dengan raut wajah penasaran. Dahinya mengerut.

“Sepi di rumah. Sunyi… Nggak ada temennya. Lagian di sini udah nggak aman. Aku mau di Jogja aja selamanya. Nggak balik sini lagi.” Ujarku, seolah-olah menumpahkan segala kegelisahan batin.

“Jangan gitu dong, Ra! Kita kan temenan dari kecil. Kalau kamu ada masalah, cerita aja!” Kata Galih menimpali.

“Bukan masalah pribadi sih. Ini masalah lingkungan. Aku ngrasa lingkungan ini udah nggak aman lagi buat ditinggali.” Ucapku dengan wajah penuh keluh kesah.

“Nggak aman gimana sih, Ra?”

“Duh kamu nih nggak nyambungan banget! Katanya kamu curiga kalau semua ini aneh. Ingat deh, coba pikirkan! Banyak orang mendadak celaka. Dan tiba-tiba banyak kucing sliweran. Aneh aja sih menurutku. Aku ngrasa kejadian ini ulah kucing-kucing gaib.” Terangku dengan kelenguh di wajah yang makin membuat bibirku agak gemetar karena takut, sekaligus geram.

“Ra…aku boleh ngomong sesuatu nggak? Tapi tolong kamu rahasiakan ini. Jangan bilang siapa-siapa karena aku sendiri masih menyelidiki.” Kata Galih membuatku mendadak merinding.

“Apa memangnya?”

“Sebaiknya kamu tunda dulu keberangkatanmu ke Jogja. Besok pagi sehabis subuh, kuajak kamu ke suatu tempat. Malam ini, kalau boleh kusaranin. Sebaiknya kamu tidur di rumahku aja. Sekamar sama mbak Yuna kan bisa.” Bujuk Galih.

“Ya udah deh…” Seruku singkat. Menutup obrolan kami dan membuka tabir baru esok paginya. Di malam yang tak berbintang karena agak mendung itu, aku akhirnya tidur di rumah Galih.

*          *          *

Ada sebuah area tanah kosong yang letaknya tidak jauh dari perumahan. Menghubungkan satu desa dengan desa lainnya. Tanah itu rimbun pepohonan yang batangnya ditumbuhi lumut dan benalu pete-petean.

Di hamparan tanah itu, ada “taman”. Jangan terkecoh ini adalah bunga atau taman rumput karena dalam bahasa Jawa Ngapak, “taman” itu artinya “kolam ikan yang sekaligus dijadikan kolam pembuangan kotoran manusia”.

Ya, taman ini memang kolam yang dulunya berfungsi sebagai tempat buang hajat warga desa. Namun seiring perkembangan kesejahteraan masyarakat, kini tanah itu dialihfungsikan sebagai tanah keramat. Ia tak pernah tersentuh kemajuan pembangunan karena warga desa yang meningkat ekonominya ini, masih percaya bahwa menjaga warisan leluhur itu perlu.

Warisan jamban memang pemandangan yang lazim di tempat yang belum lama mengalami transisi ekonomi. Tapi yang aku tidak paham adalah kenapa Galih membawaku ke sini?

Pagi-pagi sekali sebelum matahari merekah di ufuk timur, kami sudah jongkok di pinggiran taman. Katanya bakal ada sesuatu yang bikin sport jantung nantinya. Aku harus kuat melihatnya kalau memang masih ingin menguak misteri di balik kecelakaan, kucing dan aura suram yang melingkupi lingkungan tempat tinggal kami belakangan.

Lama kami jongkok, hingga tiba-tiba, jantungku berdegup sangat keras. Sampai menyembul ke tenggorokan dan ingin teriak karena kami melihat seperti ada seseorang di balik bilik. Ia tampak seperti lelaki memakai jaket kulit hitam dengan topi baret.

Di dalam kotak tempat buang hajat yang dikerubungi geribik bambu dan kandi itu, sosok misterius itu terlihat celingak-celinguk. Syukurlah ia tidak melihat kami karena kami jongkoknya memang di balik pepohonan perdu yang rimbun daunnya.

Siapa dia? Padahal sejak tadi kami di sini sama sekali tak melihat ada orang datang ke taman selain kami. Aku bisik-bisik ke Galih, namun ia malah membungkam bibirku dengan telapak tangannya. Sampai akhirnya orang itu pun tiba-tiba hilang.

Dan Galih menarik tanganku untuk berlari bersama menuju ke kotak bilik jamban itu. Dan aku terkejut bukan main karena di sana sudah ada bangkai kucing dengan kepala terpenggal tidak sampai putus.

“Ke mana orang tadi?” Tanyaku pada Galih seraya mencengkram bahunya.

“Percaya nggak Ra… Ini udah keempat kalinya aku memergoki orang itu di sini. Dan tiba-tiba saja orang itu hilang. Cuma meninggalkan jejak kucing mati begini.” Kata Galih, ia pun merangkul pundakku tuk meringankan sedikit ketakutanku.

“Kamu nggak kenal orang itu?” Tanyaku lagi.

“Ssssh… Nggak kenal lah! Menurutku sih dia bukan manusia karena bisa ngilang gitu. Ada kemungkinan dia jelmaan jin suruhan seseorang. Ya, seseorang di balik tragedi ini.” Tandas Galih, membuat tubuhku makin lunglai karena resah dan takut.

“Udah Ra… kamu tenang aja. Sekarang kita telpon pak RW aja. Atau pak Lurah sekalian. Biar mereka ke sini! Karena kalau kita pergi, aku takut bangkai kucing ini hilang. Ini kan bisa dijadiin barang bukti!” Demikianlah ide Galih membuat keringatku agak surut.

“Tapi… Kalau cuma kita berdua yang lihat. Mana ada orang percaya? Lagian masalahnya adalah kita bakal mengungkap hal-hal mistis. Bukan sekadar kucing oren yang mati ini.” Kataku, ragu.

“Saksi mata bukan cuma kita Ra. Aku menyelidiki ini sebenarnya udah agak lama. Orang pertama yang melihat sosok aneh di balik bilik itu adalah pak Karyono, kamu tahu? Pedagang  sempol ayam yang ngontrak di pertigaan jalan itu mergokin tu orang yang pakai topi baret mendadak ada di dalam bilik. Kayak jatuh dari langit gitu, ada kepulan kabut abu-abunya. Pas dicek sama pak Karyono, di sana ada dua ekor kucing hitam mati.” Ujar Galih, kembali membuat kerongkonganku berdegup karena gas asam lambung yang mendadak naik.

Kami pun memutuskan menelpon pak RT, RW hingga lurah. Dan Galih juga menelpon para sesepuh lingkungan yang kiranya bisa menguatkan argumentasi kami di hadapan perangkat desa bahwa lingkungan sini memang sedang dijadikan lahan main ilmu hitam para dukun.

Buktinya apa? Buktinya adalah kematian kucing-kucing ini. Aku tahu bahwa kucing adalah binatang kesayangan Nabi yang baik dipelihara. Namun kucing-kucing yang mati ini hanyalah jadi perantara saja bagi tumbal-tumbal yang sasaran sebenarnya adalah manusia, warga desa sini. Aku yakin.

Kosakata Sang Penulis

Cerpen Kucing-Kucing Gaib ditulis oleh Candrasengkala. Seseorang yang suka mengamati arus pikirnya sendiri. Kemudian memasukkan gelombangnya ke dalam mangkuk. Lalu mangkuk itu jatuh menggelinding di lautan semesta alam.