Javranis van Gaoka, Komunitas Sastra Katarsis, Cerpen Kosakata, Cerpen Katarsis, Media Katarsis

Di sungai yang arusnya lemah, airnya keruh dan banyak limbah. Seorang pemuda jongkok sambil memegang walesan. Sesekali ia menarik kenurnya hingga kumbul yang terbenam di comberan itu naik ke permukaan.

Dipikirnya ia dapat ikan, namun lagi-lagi sampah. Pemuda itu awalnya sabar, namun setelah 2 jam, ia menggerutu juga.

“Piwe aku arep bali? Nek ra olih iwak kaya kiye? Simbokku ngenteni nang umah.”  Ia mulai celinguk kanan-kiri, semuanya sepi nyet-nyet. Hanya terlihat rimbun pohon yang melengkung hampir tumbang. Serta rerumputan yang diselimuti wedi.

Empat hari tiga malam, Kalijengking dilanda banjir. Tak kenal ampun, air yang tadinya bening berubah jadi lumpur berpasir. Pemuda itu pun meremas walesannya. Giginya menggigit bibir bagian bawah, sedangkan matanya menyeringai tajam. Diiringi gerakan menarik kumbul yang ternyata dapat sebuah sandal hitam.

“Bajigur! Ora bisa maning kaya kiye! Pokoke aku kudu olih iwak!”

Begitulah di suatu senja yang merekah, ia ngedumel dengan dirinya sendiri. Ia kadang optimis, kadang putus-asa. Kemudian ia melempar sandalnya ke tumpukan sampah yang sudah nyangkut sebelumnya.

Saat matahari hampir hilang dari pandangan, pemuda itu memutuskan berhenti mancing. Ia ingin pulang saja. Tak lupa ia membawa pula setumpuk sampah itu. Dimasukkannya ke dalam kantong jaring ikan.

Ia berjalan meninggalkan Kalijengking. Menyusuri hutan desa yang lembab dan bau tanah. Langkahnya cepat dan bunyi tuk-tuk dari sepatu boot yang dikenakannya.

Sesekali ia memandang kesal pada jaring berisi ikan-ikan palsu itu. Tapi kemudian ia tersenyum karena ia juga berhasil menangkap putri duyung cantik, pikirnya.

Setelah memanjat dan menuruni 4 bukit, akhirnya tampaklah orang-orangan sawah. Yang paling tinggi mengenakan caping, berbaju karung goni itu milik keluarganya. Jangankan burung emprit, elang saja takut mendekatinya. Jika malam tiba, boneka pengusir burung itu memancarkan cahaya merah dari kedua matanya. Mengerikan sekali!

Javranis van Gaoka, Komunitas Sastra Katarsis, Cerpen Kosakata, Cerpen Katarsis, Media Katarsis
javranis van gaoka/cerpen kosakata.id/komunitas sastra katarsis

Di tahun 1996, saat listrik masuk ke desa, banyak tuan tanah memasang lampu-lampu di kebun mereka. Termasuk Kaki Japra, kakek dari pemuda itu pun memasangnya, Caranya digantungkan dengan saka bambu, namun ini justru memicu kejadian maling tomat.

Barang ditelusuri, ternyata itu ulah pekerja PT Logging Kesuma Indrajaja. Mereka saat malam hari hendak bertugas masuk hutan, tak lupa mampir dulu ke kebun Kaki Japra. Tiap orang mengambil sebutir tomat, padahal dalam rombongannya itu bisa ada 5-6 orang. Tiap hari diambilin, akhirnya pas panen, habislah.

Kaki Japra tak langsung marah. Ia memilih bungkam karena sebenarnya direktur PT Logging Kesuma Indrajaja itu menantunya. Maka ia berpikir tomat-tomat yang dicuri itu anggaplah sebagai bekal makan para karyawan.

Kemarahan Kaki Japra bukan pada tomat atau buruh. Melainkan pada seekor burung legendaris yang dijuluki Gaok Ireng. Burung ini tidak mencuri, namun kepakan sayapnya merusak seluruh tanaman, bisa 1 hektar rata semua dengan tanah. Entah sebesar apa burung itu, tak pernah ada saksi mata. Makanya tiap-tiap pemilik kebun dan sawah selalu punya boneka masing-masing.

Orang-orangan sawah milik keluarga pemuda itu yang paling besar dan tinggi. Matanya merah menyala karena dipasangi lampu pirces. Ia berdiri kokoh di tengah lahan seluas dua hektar. Tubuhnya mengayun dan tangannya melambai-lambai terus seperti sedang mengusir Gaok Ireng. Gerakan ini dibuat dengan memanfaatkan arus sungai kecil yang jadi irigasi sawah.

Pemuda itu pun terkesiap dari lamunan. Ia tersenyum tipis, sementara tangannya mendadak mengambil sikap hormat. Kemudian ia menunduk memberikan salam pada Javranis van Gaoka. Boneka besar milik keluarganya itu memang dinamai Mister Javranis van Gaoka. Untuk mengenang kakeknya dan Gaok Ireng.

“Den Bagus, Den Bagus… Ke mana aja, Aden? Pergi kok nggak bilang-bilang. Saya kan jadi dimarahi ibu.” Ucap seorang pria paruhbaya pada pemuda itu.

“Mancing, pak!” Jawabnya singkat sambil melempar jaring berisi hasil tangkapannya sore itu. Tapi kemudian ia mengambil kembali kantong jaringnya. Kelupaan pada putri duyung cantik yang juga ditangkapnya tadi.

* * *

Sekembalinya ke rumah, Bagus mandi. Dibasuhlah seluruh tubuhnya yang bau belet. Ia sudah tidak sabar buat memandangi betapa cantiknya putri duyung yang sudah ia tangkap tadi. Ia juga sudah ingin jumpa ibunya dan memberitahu bahwa ia sudah gagal memancing ikan.

“Dan kegagalan ini karena banjir itu.” Bagus membatin seraya mengambil handuk kimono yang tergantung di dinding kamar mandi.

Ia buru-buru jalan ke kamar untuk menyapa sang putri duyungnya. Yang tentu saja bukan duyung beneran. Melainkan hanya sebandul liontin patah yang di dalamnya ada foto gadis cantik.

“Hei… maaf menunggu lama. Siapa namamu?” Tanya Bagus pada liontin gadis cantik.

“Apa kamu putri duyung? Kenapa tersangkut dan hanyut di Kalijengking?” Bagus bertanya lagi. Namun tentu saja liontin membisu.

“Kamu cantik… bolehkah aku mengenalmu?” Beginilah Bagus, pemuda itu masih saja bersikap konyol dengan mengajak bicara bandul liontin. Sampai-sampai ia tak sadar, sang ibu sudah berada di dalam kamarnya dan mengamatinya sambil geleng-geleng.

“Gus… lagi apa kamu? Kok senyum-senyum dan ngomong sendiri?”

“Eh, Ma…Ini loh, bagus kan tadi mancing. Nggak dapat ikan, malah dapat kalung patah ini. Bagus sebenarnya pengin masak gulai kepala ikan kesukaan Mama. Tapi ya sudahlah. Nggak dapat ikannya.” Ujar Bagus, cengar-cengir.

“Aduh, kamu ini… Ya, Mama emang bilang sama kamu lagi pengin makan gulai. Tapi nggak harus mancing juga kali! Belilah sana ke restoran kota. Mama khawatir tahu, ini anak kok pergi nggak bilang-bilang. Cuaca lagi buruk di sini, banjir terus. Nggak usah mancing-mancing lagi!” Ujar perempuan yang rambutnya mulai ubanan itu. Sang anak hanya mengangguk-angguk.

Setelah Mama pergi, Bagus kembali mengajak ngobrol liontinnya. Dia memandangi potret perempuan yang sepertinya berumur sama dengannya, 21 tahun. Rambutnya blonde, wajahnya Jawa, memakai gincu merah tipis. Pakaiannya kaos warna hitam berkerah.

Oleh karena Bagus tak tahu namanya. Mempertimbangkan gadis itu yang seperti bule Jawa, maka Bagus memberinya nama Westi Aluna Tirta, yang artinya gadis dari barat yang ditemukan di air.

Kemudian ia letakkan bandul liontin itu di dalam kotak barang-barang aneh lainnya yang sudah ia kumpulkan sejak kecil. Ia lempar saja si Westi di dalam kotak. Tak peduli betapa pengapnya kotak harta karun milik Bagus itu.

* * *

Memang demikianlah Bagus, hobinya mengumpulkan barang rongsokan. Satu-satunya barang rongsokan yang gagal dimilikinya hanya si Javranis van Gaoka. Ia pikir benda itu patut disebut rongsokan karena keluarganya kini sudah tumbuh sangat logis. Legenda Gaok Ireng tak lagi dibicarakan.

Memang keluarganya masih menjalani agribisnis, hanya saja tingkatannya sudah besar. Lahan kebun utama bukan yang di sekitar rumah ini, melainkan jauh di desa sebelah. Dikelola dalam perusahaan yang bernama Little Farming.

Apalah gunanya orang-orangan sawah yang berdiri sombong itu? Sepetak lahan satu hektar di depan rumahnya itu hanya ditanami rumput hias dan bunga-bunga. Ada ayunan dan perosotan di salah satu sudutnya.

Di tengah keindahan taman rumah yang terbilang luas itu ada keanehan konstruksi. Kanal kecil yang mengalirkan air, untuk menggerakkan orang-orangan sawah keramat. Di atas kanal itu ada jembatan kecil, tempat di mana Bagus sering merenung bagaimana caranya mencabut Javranis van Gaoka dari akarnya.

Percuma boneka itu ada di sana. Kakeknya sudah meninggal sejak ia berumur 6 tahun. Ayah dan Ibunya adalah orang logis yang hampir tak percaya bahwa hantu itu ada, apalagi hantu berbentuk burung.

Kenapa disebut hampir tak percaya? Ini karena anggota keluarganya masih melakukan seremoni aneh tiap malam bulan purnama. Seremoni di mana jampi-jampi dibacakan oleh seorang dukun kepercayaan. Kemudian mendadak Javranis van Gaoka menari-nari lebih kencang, lampu pirces di matanya padam dan dari mulutnya keluar bunyi desisan aneh seperti angin berhembus tipis.

Jika Javranis sudah diam, artinya ritual selesai. Langkah terakhirnya, sang dukun akan mengambil air dari kanal sungai pakai gayung batok kelapa. Kemudian ia mengurapi kepala seluruh anggota keluarga dengan air itu. Dicipratkan juga ke sekujur tubuh. Rasanya dingin dan bau aneh, seperti bau kehampaan.

Tentu saja kepala Bagus juga kena hantaman air kehampaan itu, apalagi ia cucu kesayangan Kaki Japra. Sang dukun dengan gemas menciprat-cipratkan dan mengurapi kepalanya. Bibir dukunnya umak-umik tak jelas, sepertinya mengucapkan “hilanglah, hilanglah kesialan Gaok Ireng. Sukses untuk keturunan Japra.”

Biasanya, sehari setelah seremoni ini, Bagus meriang sebentar. Kepalanya pusing dan hidungnya mampet. Tapi karena sudah hampir 252 kali dia mengikuti ritual aneh ini, maka tubuhnya makin kebal.

Dulu, ketika para sepupu Bagus masih tinggal satu desa dengannya, ritual Babar Candrasengkala sangat mengasyikkan. Oleh karena Bagus bisa bermain-main dan tidak terlalu serius memperhatikan tiap prosesnya.

Bahkan pada sesi semedi alias bertapa, Bagus pernah kabur dengan kedua sepupunya, Mentari dan Laksana. Mereka bertiga memang cucu-cucu yang merasa dirugikan dengan ritual aneh ini. Sebab ritual ini melelahkan, bikin kesemutan dan masuk angin karena duduk berlama-lama di halaman rumah di tengah malam yang dingin berkabut.

Ada pun cucu yang pro terhadap Babar Candrasengkala akan melaporkan ketiganya pada orang tua dan dukun. Cucu yang menyebalkan ini sebenarnya berkhianat, dulunya dia juga sering kabur, tapi seiring bertambahnya usia dia jadi nurut ikut.

Ya, dialah Brotoseno, cucu sulung Kaki Japra. Dia bukan lagi anggota geng pemberontak anti Javranis van Gaoka. Hingga hari ini, Brotoseno yang masih setia merawat boneka keramat itu. Bahkan di saat para orang tua sendiri mulai beranjak dari jurang mistisisme, Brotoseno masih saja melestarikan.

Barangkali, 1 Oktober 2004 adalah hari paling heroik dari perjuangannya. Pasalnya dia menggagalkan rencana busuk Bagus dan Laksana buat mencabut dan membuang Javranis van Gaoka. Padahal rencana itu hampir saja berhasil.

* * *

Tanggal 1 Juni 2005, para orang tua sedang ada acara Banian (semacam arisan keluarga) di desa sebelah, di rumah Pakde Kartono.

Para cucu memang paling malas kalau duduk diam, jadinya mereka berhamburan. Seperti Bagus dan Laksana yang melipir pulang ke rumah kakeknya, hanya buat mengusik eksistensi boneka keramat.

Untuk menjaga Brotoseno tetap diam di acara Bani Martaji, Mentari dijadikan umpan. Gadis cantik ini seumuran dengan Brotoseno. Tari mengajak Broto main catur, di saat Bagus dan Laksana beraksi.

Sungguh sukses besar pengalihan perhatian yang dilakukan Mentari. Broto tak curiga sedikit pun, kedua sepupunya yang sering berulah itu sudah kabur.

Namun masalah kegagalan ada pada Bagus dan Laksana sendiri. Pada saat mereka hendak mencabut dan merobohkan Javranis van Gaoka, boneka itu terikat sangat kencang. Jangankan mau mematahkan penyangganya, memiringkan tubuh Javranis saja sulit.

Sampai berkeringat mereka mencobanya, gagal terus. Akhirnya, dengan naluri bocah laki-laki nakal, keduanya sepakat buat mengencingi orang-orangan sawah itu. Sambil ketawa-tawa mereka melakukannya. Hingga tak sadar, Pak Diman sudah ada di belakangnya dan bersiap menjewer telinga kedua bocah songong itu.

Pak Diman adalah pembantu di rumah keluarga Kaki Japra. Sudah puluhan tahun mengabdi di sana, sehingga seperti keluarga sendiri. Ia tentu tahu sejarah lahirnya Javranis van Gaoka.

Meski sudah menangkap basah kedua bocah mengencingi boneka sakral itu, ia hanya menjewer lirih sambil menasehati bahwa tindakan mereka itu buruk dan bahaya.

“Den Bagus, Den Laksa… Ayo sini ikut!” Ujarnya sambil menggandeng tangan kedua bocah itu di kiri dan kanan. Mereka berjalan menuju serambi rumah dan duduk di lincak.

“Kenapa kalian kok sebel sekali sama Javranis van Gaoka?” Tanya pak Diman. Raut wajahnya penuh rasa maklum.

Sudah tentu anak usia 8 tahun ditanyai dengan pertanyaan serius demikian justru bingung, menunduk dan saling pandang. Seringnya tingkah kenakalan dan kejahilan anak-anak memang dilakukan karena rasa suka dan penasaran belaka.

“Emangnya pak Diman suka sama Javranis?” Justru Laksana balik bertanya. Bagus mengimbangi dengan angguk-angguk dan matanya berbinar penasaran.

“Suka dong. Itu kan bapak yang bikin sama kakekmu, dulu!” Ujar pak Diman. Kedua bola mata mereka makin berbinar. Jantungnya berdegup, rasa penasaran membuncah maksimal.

“Gimana caranya?” Bagus bertanya cepat.

“Apa Gaok Ireng beneran ada?” Laksana menyusul dengan pertanyaan lainnya.

Rewang itu pun menepuk-nepuk pundak keduanya dan meminta mereka sabar. Ceritanya sangat panjang dan lebih baik kapan-kapan saja menceritakannya.

“Udah, kalau kalian pengin tahu, besok datang ke Sawah Lor. Bantu bapak bersih-bersih dulu, ya?” Kata pak Diman sambil tertawa hingga nampak giginya yang keropos.

Mendengar “disuruh bersih-bersih”, tentu keduanya langsung malas. Dan malah ngomel-ngomel bahwa pak Diman curang dan kebanyakan aturan. Mereka pun meninggalkan pak Diman segera dan memutuskan kembali ke acara Bani Martaji.

Melihat kepergian kedua bocah nakal itu, pak Diman hanya geleng-geleng. Tapi matanya menyeringai tajam, nafasnya terhembus lega. Kemudian ia berpikir untuk segera menyiram kencing bocah itu agar Javarnis van Gaoka tidak pesing lagi.

Sekembalinya ke rumah Pakde Kartono, Mentari langsung berlari merangkul pundak keduanya. Mereka berjalan ke bawah pohon mangga. Kasak-kusuk berisik. Sedangkan dari kejauhan, Brotoseno mengamati.

“Gimana, berhasil nggak? Rubuh kan si Javra jelek itu?” Selidik Mentari, bisik-bisik.

“Nggak… Susah banget diancurin. Kami cuma pipisin aja tadi!” Ujar Bagus. Laksana mengangguk-angguk dan menunjukkan jempolnya, tanda setuju.

“Hahaha… sudah kubilang kan, susah! Udahlah, mending sekarang kita makan siang.” Mentari memaklumi, ia tahu bahwa kedua sepupunya bakalan gagal. Ini percobaan menumpas Javranis van Gaoka yang ke puluhan kalinya.

“Yang bisa robohin itu cuma yang bikin.” Mendadak Brotoseno sudah ada di dekat mereka. Dan ia menyadari topik obrolannya.

“Pak Diman, maksudmu?” Bagus bertanya.

“Bukan… Ibuku.” Brotoseno menjawab seraya pergi begitu saja. Maka ketiga bocah pembuat ulah itu saling pandang. Mereka makin penasaran dengan misteri Javranis van Gaoka.

“Dia bohong… Tante Lucita, katanya? Tante kan udah meninggal.” Mentari berceloteh dengan suara sengaja dikerasin. Gadis ini tertawa kaku dan benar-benar tak percaya pada ucapan kakak sepupunya itu.

“Heh, kelinci! Diem kamu… Mama belum meninggal!” Kata Brotoseno, seraya berbalik badan, mendekat pada Mentari dan mencengkram pipi gadis kecil itu dengan jari-jarinya.

“Uuuu…aaaa…hhhh…” Mentari berusaha bicara, namun tak bisa karena bibirnya monyong tertekan bersamaan dengan pipi.

Bagus dan Laksana segera melerai mereka. Brotoseno pun pergi dengan penuh amarah. Bola matanya memerah seperti menahan tangis. Mentari hendak mengejar dan meninjunya, namun kedua sepupunya melarang.

Demikianlah hari-hari yang dilewati oleh keempat bocah, cucu kakek Japra. Saling tengkar dan saling intai, hanya karena boneka orang-orangan sawah. Setelah lebih dari 12 tahun, misteri Javranis van Gaoka belum terpecahkan.