Cincin Batu Permata, Komunitas Sastra Katarsis, Cerpen Kosakata, Cerpen Katarsis, Media Katarsis

Seorang pemuda ditugaskan merebut cincin batu permata untuk dikembalikan pada rakyat. Cincin itu sangat dekat dan mudah diambil. Berada di sebuah kotak kecil yang menggantung di dinding, di sebelah sumur mata air.

Saat anak itu sampai di lokasi, dirinya didatangi oleh 3 orang bersenjata lengkap dan 1 orang laki-laki wartawan. Mereka pun berbincang-bincang.

“Sedang apa kau di sini, nak?” Tanya salah seorang laki-laki bersenjata.

“Saya mendapatkan kabar bahwa ada 3 buah cincin batu permata yang sejak dulu belum sempat diambil. Benda ini menggantung di kotak kecil yang menempel di dinding sebelah sumur mata air itu!” Seru anak muda itu.

“Biarkan kami saja yang ambil! Serahkan pada kami saja! Adik menunggu di sini saja, ya?” Ucap seorang bapak bersenjata yang lainnya.

Pemuda itu pun berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengambil keputusan. Lama ia berpikir, ia semakin bingung. Dirinya merasa aneh dan tidak bisa percaya begitu saja. Kotak itu tepat berada di depan matanya. Untuk mengambil 3 buah cincin batu permata itu mudah saja. Tinggal berjalan  saja beberapa langkah ke depan.

“Mengapa harus minta bantuan orang lain.” Pikir dan tanyanya dalam hati, hingga kacau.

“Baiklah, saya akan menunggu di sini. Tolong ambilkan!” Ujar anak muda itu. Akhirnya ia mengalah dan pasrah menunggu, meskipun dipenuhi keraguan.

“Stop…. ini tidak adil! Bagaimana kalau kita maju bersama-sama saja. Kita ambil bersama-sama cincin batu permata itu!” Ajak laki-laki wartawan.

Maka majulah anak muda itu berjalan di antara 4 orang itu. Namun baru beberapa langkah, mendadak ia dikhianati. Malah salah seorang bapak mirip tentara dan dosen itu menjerat tubuhnya dengan tali. Anak muda itu dibawa menjauh dari dinding yang melekat 3 buah cincin batu permata.

Cincin Batu Permata, Komunitas Sastra Katarsis, Cerpen Kosakata, Cerpen Katarsis, Media Katarsis
cincin batu permata/cerpen kosakata.id/komunitas sastra katarsis

Kemudian ia ditinggalkan di lokasi antah berantah sendirian. Sedangkan bapak bersenjata ini masuk ke dalam ruangan untuk mandi. Sambil dari kamar mandi itu, ia mengajak berbincang-bincang.

“Hahahaha…apa kaupikir kami bodoh? Mau menyerahkan batu permata itu padamu, hei bocah? Ilmumu itu masih sedikit. Tak sebanding dengan kami.” Ucapnya. Membuat anak muda itu tersulut amarah. Setelah itu, ia pun lari kembali ke lokasi sumur. Karena laki-laki tadi nampaknya masih asik mandi dan buang hajat.

Begitu sampai lokasi, ternyata sudah kosong, tidak ada orang. Kotak yang menempel di dinding itu pun sudah kosong. Anak muda ini menangis dan marah-marah pada dirinya. Ia berteriak hingga suaranya menggema di tengah rimba. Akhirnya kedua pria bersenjata dan seorang wartawan itu pun menghampiri karena mendengar gema itu.

“Permata itu sudah kami ambil. Kami bagi rata bertiga.” Celetuk pria bersenjata. Anak muda itu marah, mendelik menatap ke arah laki-laki wartawan.

Ia merasa strategi maju bersama-sama ini adalah penyebabnya. Pasti lelaki sipil ini sengaja melakukannya.

“Kenapa kaudiam saja, kamu bodoh? Kau berkhianat? Aku percaya padamu untuk maju bersama-sama karena kita sama-sama mewakili rakyat sipil tak bersenjata.” Ujarnya.

“Awalnya aku juga berpikir begitu. Aku sudah membawa 10 orang warga sipil untuk ikut masuk ke area sumur ini. Tapi aku kalah cepat dan kalah jumlah. 10 orang itu mati dibunuh oleh mereka berdua. Sedangkan aku berada dalam intimidasi, ikut mati juga atau sama-sama mengambil cincin batu permata itu. Aku sangat menderita pada awalnya menjadi pengkhianat negara dan rakyat. Tapi aku tidak punya pilihan. Jika aku menjual cincin itu, sungguh aku untung banyak.” Ujar laki-laki jurnalis itu.

Nasi telah menjadi bubur. Cincin itu sudah hilang dan dibagi rata. Anak ini pun lari kembali ke tempat di mana seorang tentara intelektual berada. Sampai di sana, ia masih di kamar mandi.

“Keparat…..!!!! Ini gara-gara Bapak. Kenapa Bapak menculikku tadi?” Tanyanya.

“Hahahaha…. aku membawamu pergi agar kamu tidak mati dan agar teman-temanku bisa mengambil cincin itu. Sekarang seharusnya kamu sudah belajar bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup mendekati kotak permata dan sumur mata air selain kami? Jika pun ada orang sok heroik seperti wartawan gadungan itu. Pada akhirnya kami berhasil menghasutnya agar mau meraup harta permata itu bersama-sama.” Ujarnya.

***

Pemuda itu bernama Athara Ambaudhenda Nyakrawati, biasa dipanggil Nyakra atau Nyakrawati. Setelah diculik oleh tentara intelektual yang sangat menyebalkan itu, Nyakra pun ditawari menjadi muridnya. Namun ia diberi pilihan lainnya juga yaitu pergi selamanya dari kotak kecil yang menggantung di dinding, di sebelah sumur mata air. Dan jangan pernah bermimpi memilikinya dan merebutnya, walaupun datang seorang diri ataupun beramai-ramai.

Nyakra memilih pergi karena ia sangat tidak suka dengan aksi penculikan seperti itu. Di saat mau berjuang bersama-sama maupun berkompetisi mengambil secara adil pun, tetap saja dirinya akan mati terbunuh atau diperbudak dengan intimidasi.

Nyakra diberi waktu keluar dari lokasi kotak permata dan sumur mata air itu hanya dalam waktu 8 jam sejak keputusannya disampaikan. Jika dalam 8 jam ia tidak berhasil keluar dari wilayah ini, maka dia bisa berpapasan dengan 100 orang yang juga berniat seperti dirinya, mengambil cincin batu permata. Alih-alih bisa selamat keluar dari tempat angker itu, Nyakra bisa jadi malah dibunuh oleh mereka karena dipandang mencurigakan berada di wilayah yang dijaga mereka.

Nyakra pun berlari menerobos rimba. Langkah kakinya gesit dan matanya terus menerawang ke segala arah. Ia harus bisa sampai dermaga dalam waktu 8 jam maksimal, sebagaimana nasehat tadi.

Saat menuruni sebuah bukit, kabut tebal mengepul. Sinar matahari makin sulit menembus tanah karena memang senja sudah datang. Nyakrawati mulai merasa panik karena ia memang memiliki trauma pada situasi remang-remang akibat teringat dirinya yang pernah hilang di belantara beberapa tahun lalu. Nyakra pun berlari makin kencang hingga berhenti karena mendadak ada sorotan sinar senter yang memancar dari arah depan ke wajahnya.

Nyakrawati terhenyak, langkahnya berhenti. Ia sulit menatap ke depan karena sinar senter terang itu terus mengoncori wajahnya. Sambil menutup matanya dengan jari tangan, Nyakra membuka pelan-pelan matanya. Belum sempat membuka, sekepul gas aneh mirip kabut putih menghantam tubuhnya. Gas dingin ini membuatnya jatuh tersungkur ke belakang hingga kehilangan kesadaran. Sebelum Nyakra benar-benar pingsan, dirinya tahu bahwa dua sosok lainnya berdiri di belakang tubuhnya untuk menangkap dan mengangkat tubuhnya.

***

Sejak terhempas jatuh karena semprotan gas penghilang kesadaran itu, Nyakra seolah mengalami tidur panjang tanpa mimpi. Saat ia membuka mata, dirinya sudah mendapati tubuhnya dibalut oleh SB. Sleeping Bag ini hangat dan tebal, tapi tercium aroma apek, menandakan sudah keseringan dipakai bergantian di rimba gunung.

Nyakra pun keluar dari SB itu dan beranjak dari dipan kayu tanpa kasur. Ia berjalan mencari pintu, tapi tak ditemukan pintu itu. Ia meraba-raba dinding, sama saja jendela pun tidak ada. Maka ia mulai mendekatkan telinganya ke dinding kayu tanpa celah itu, berharap mendengarkan suara kehidupan di luar sana.

Lama ia menempelkan daun telinganya ke dinding kayu, namun tak terdengar apa-apa. Nyakra juga memejamkan matanya, sebab ia mempelajari ilmu mendengar dalam kesunyian, yaitu pejamkan mata, agar indera pendengarannya lebih sensitif.

Sayup-sayup ia mendengarkan bunyi tembakan, hingga membuat jantungnya terpacu untuk berdetak kencang. Ia berusaha tenang dengan menarik napas pelan-pelan. Sebagai petualang rimba terlatih, ia tahu bahwa kabur dari jendela, pintu atau atap bangunan terisolasi itu mustahil.

Namun baginya, petualangan di rimba adalah sebuah keberuntungan untuk kabur. Sebab, kondisi lantai yang cenderung sudah pasti bertanah tanpa plester semen. Barak-barak sandera dan penculikan ini biasanya dibuat dengan peralatan minim dan sifat bangunannya semi permanen karena mengikuti pergerakan para penculik ini.

Nyakra meraba-raba tanah dalam kegelapan ruang. Ia merasakan tekstur tanah terlalu padat dan ini akan sulit buat digali dengan cepat. Tapi ia tidak menyerah, ia mulai mencari benda apa saja yang bisa digunakan untuk menggali. Ia pun menyincingkan rompinya untuk mengambil pisau lipat kecil mirip belati yang tersemat di pinggang.

Dengan pisau lipat kecil itu, Nyakra menggali tanah. Ini adalah teknik terbodoh dan terburuk yang diajarkan gurunya. Teknik ini memiliki tingkat keberhasilan kabur hanyalah 30%, sebab 60% bisa gagal menggali karena kerasnya tanah. Dan 10% mengalami kecelakaan karena terkubur dalam tanah malah. Teknik menggali tanah dengan belati juga hanya dapat dilakukan di ruangan yang kecil sehingga kedalaman menggali tak terlalu dalam yang mana ini akan sangat memakan waktu dan tenaga.

Nyakra mulai menggali, namun belum sempat selesai menggali, mendadak terdengar ketukan dari dalam tanah di pojokan ruangan. Nyakrawati terkejut karena ternyata ruangan ini berpintu dan pintunya ada di lantai pojok itu. Ia tersenyum dan merasa ini adalah kesempatan besarnya. Ia pun berjalan merayap, meraba-raba tanah untuk menemukan gagang pintunya. Ia mulai menarik-narik pintu bawah tanah itu. Bersamaan dengan seseorang di baliknya yang juga nampaknya berusaha mendorongnya ke atas.

“Aku akan keluar dari pintu lantai itu. Yaa Allah, mudahkan aku.” Ucap Nyakra di hati seraya mengangkat gagang besi pintu kamuflase ini.

Begitu dibuka, betapa terkejutnya ia karena yang nongol dari balik pintu itu adalah kepala gurunya sendiri, guru besar padepokan topi jerami.

“Astaga… Pak Kepala Geng kok di sini? Bikin kaget aja.” Kata Nyakra berbisik.

“Hahahaha…. hahahahaha…. hahahaha…. goblok!!!! Ngapain kamu gali tanah, wong ada pintunya? Dan ngapain gali tanah, wong pisaumu itu bisa dipakai buat jebol dinding kayu ini?” Tanya guru besar Padepokan Topi Jerami. Pertanyaan ini membuat Nyakrawati skak mat karena malu.

Nyakra pun turun ke pintu bawah tanah itu. Betapa terkejutnya ia karena di dalamnya sangat terang berlampu. Ia berjalan mengikuti gurunya keluar dari saluran bawah tanah itu. Nyakrawati pun protes pada gurunya karena dipermainkan begini. Ia bertanya apa maksudnya.

Begitu keluar dari bunker itu, gurunya berpesan bahwa nanti di luar sana ia harus tegar dan dapat mengontrol emosinya. Benar saja… pemandangan di luar sana memang mengerikan. Ia melihat sekumpulan laki-laki bersenjata, di antara mereka ada si tentara tukang mandi yang menculiknya kemarin.

“Ada apa?” Bisik Nyakra ke telinga gurunya seraya berjalan lebih cepat untuk menyamai langkah kaki beliau.

“Untung aku nggak terlambat datang. Kalau terlambat, anak buahku semuanya itu akan membunuhmu beneran dengan perasaan senioritasnya. Nggak ada musuh yang abadi dan teman abadi di medan perang. Aku menyuruhmu datang ke sini untuk mempelajari taktik perburuan yang sesungguhnya. Baru menghadapi 4 orang saja, kamu kalah sama Kapten Jayakarta, si tukang mandi itu…Baru disuruh kabur dalam 8 jam saja, langsung mati tertembak gas beracun…. Baru dikurung di bangunan sandera reot itu aja, kamu gagal keluar dengan cara efisien dan elegan. Ini yang kamu namakan pasukan Elit? GOBLOK!!!! Otakmu di dengkul atau di mana?” Ucap guru Padepokan Topi Jerami dengan menggebu-nggebu emosional. Nyakrawati tertunduk seraya meremas telapak tangannya sendiri.

Nyakra diam saja termenung. Ia mulai menangis dan gemetar. Ia pun semakin tidak tahan karena dikatai goblok. Padahal pengabdian dan perjuangannya dengan Topi Jerami sudah sangat banyak dan menyakitkan.

“Iya….!!!! Saya goblok!!! Saya payah!!!! Karena saya ini seorang perempuan!!!!” Ucap Nyakra mulai terpancing emosi. Hal ini malah membuat guru berbalik badan. Menampar pipi Nyakra hingga ia jatuh tersungkur.

“Jika kamu tahu dirimu perempuan, mengapa kamu datang kepadaku dan memohon diajari ilmu survival tingkat tinggi?” Tanya guru besar.

“Karena saya mengagumi Anda dan menganggap Anda adalah guru sekaligus keluarga saya. Saya tidak pernah bermimpi dan berniat menggantikan posisi Anda. Tapi Anda terus memberikan saya tugas paling berat. Seolah-olah saya dipersiapkan menjadi pengganti guru!” Ucap Nyakrawati makin emosional.

“Kamu pikir kamu siapa? Kesombonganmu kok tidak turun-turun, Nyakrawati!!!! Kamu lihat semua wajah yang di sini. Kamu pikir mereka tidak berjuang? Kamu pikir mereka tidak dipersiapkan jadi penggantiku dan hanya akan jadi pengikutmu di masa depan? Kamu itu cuma perempuan biasa, Nyakrawati!!!! Nggak ada lebihnya. Kamu lihat koki kita, Sadiah? Dia jauh lebih pintar daripada kamu. Karena dia memaksa ikut aku ke sini menjemputmu hanya karena dia khawatir pada dirimu.” Ujar guru besar.

“Saya tidak perlu dijemput! Dan saya tidak butuh guru hadir di sini!” Ucap Nyakra dengan emosi semakin memuncak.

“Di mana benda yang aku minta untuk diambil? 3 cincin permata itu, sudahkah kauambil dari kotaknya?” Tanya guru Padepokan Topi Jerami.

“Belum. Cincin permata ada di tangan 3 laki-laki itu.” Ujar Nyakra sembari menunjuk 3 orang laki-laki yang tadi berkonflik dengan dirinya. Mereka berdiri acak di garda depan ratusan pasukan yang berparade.

“Ambillah sekarang juga!” Suruh guru.

Mendadak seluruh lelaki kekar berjumlah ratusan itu angkat senjata. Mereka mengepung Nyakrawati, gurunya dan Sadiah dengan formasi melingkar. Nyakra tidak membawa senjata apapun, selain sebilah pisau lipat kecil. Apalagi Sadiah, gadis lugu ini hanya bawa seonggok badan. Pun dengan guru Padepokan Topi Jerami yang dibawanya hanyalah topi jerami legendarisnya itu.

Situasi sangat kacau, sungguh tidak jelas mana kawan dan mana lawan. Nyakra pun tidak mengerti ini adalah situasi latihan perburuan atau perburuan sesungguhnya itu sendiri. Bagaimana keberpihakan gurunya? Mengapa ia hadir di sini dengan dalih menyelamatkan nyawanya?

Bunyi-bunyian letusan peluru mulai terdengar di langit karena bertubi-tubi senjata itu diarahkan ke langit. Nyakra maju ke depan selangkah. Ia mulai bernegosiasi.

“Siapa kalian?” Tanya Nyakrawati pada mereka semua yang berdiri melingkar.

“Kami adalah para pembunuh yang akan membunuhmu. Demi melindungi 3 cincin permata.” Ucap Kapten Jayakarta.

“Guruku, jenderal besar Topi Jerami mengatakan bahwa kalian adalah anak buahnya. Apa ini artinya kalian berkhianat?” Tanya Nyakra lagi sembari melangkah semakin dekat ke arah Kapten Jayakarta. Satu-satunya orang yang tidak bersenjata.

“Beliau yang telah berkhianat karena tidak lagi mempercayai kami untuk melindungi dan menyimpan 3 cincin itu.” Ujar Kapten Jayakarta, sembari membuang puntung rokok yang sedari tadi dihisapnya.

“Itu karena kalian penipu, pembunuh, rakus dan tidak lagi memikirkan negara ini lagi! Saat aku mengambil cincin itu baik-baik, kalian bilang serahkan saja pada kalian, biar kalian yang ambilkan. Saat aku mengalah dalam diam, seorang tukang kompor bilang bahwa diam dan menyerahkan pada angkatan bersenjata itu bukanlah keadilan. Saat aku maju bersama-sama kalian, justru aku dikhianati, ada yang menculikku dan membawaku menjauh dari sumur. Saat aku kembali ke lokasi, kalian bilang telah mengambil 3 cincin itu dan membaginya rata. Bukankah ini yang namanya pengkhianatan yang sesungguhnya? Kalian adalah para perampok yang selalu diceritakan dalam dongeng pasukan elit.” Ucap Nyakra. Kini ia telah berdiri 1 meter di hadapan Kapten Jayakarta.

“Andai kamu memilih tetap tinggal di barak untuk menjadi muridku. Aku pasti akan mengajakmu membunuh tiga temanku yang berkhianat itu. Agar kita bisa mengambil 3 cincin itu dan membaginya juga. Sama rata 1 setengah, 1 setengah… Atau aku 2 dan kamu 1 cincin. Tapi kamu memilih kabur, maka aku ijinkan dan dalam waktu 8 jam harus bisa keluar dari pulau ini! Karena jika tidak, inilah yang akan terjadi. Situasi sekaranglah yang sedang terjadi.” Ucap Kapten Jayakarta.

“Tapi di luar dugaan, sang pengkhianat sesungguhnya ternyata adalah guru besar kita sendiri. Karena dia membiarkan kita saling bunuh-membunuh agar dia bisa menguasai 3 cincin itu sendirian. Hanya dengan menyisakan 2 orang tuk jadi selirnya, kamu dan tukang masak itu!” Kata Kapten Jayakarta sembari menyalakan sebatang rokok yang baru.

Suasana semakin memanas, tapi justru membuatnya semakin melunak dan jelas alur kepentingannya. Peta musuh mulai tergambar jelas dalam otak Athara Ambaudendha Nyakrawati. Gadis ini sejak berumur 14 tahun telah dilatih untuk bertempur di lapangan. Tapi baru kali ini menghadapi situasi kacau karena dikepung 100 orang yang menggunakan skema Homo Homini Lupus untuk bertahan hidup.

Tapi, apakah masih ada rasa bela negara dan kesetiaan pada pemimpin tertinggi, jika jenderal besar Topi Jerami sendiri dalam benak terdalamnya menyimpan ambisi untuk mengambil 3 cincin itu dari kotaknya dan menguasainya sendirian? Jika ia berani mengorbankan ratusan nyawa, apalagi nyawa Nyakrawati dan Sadiah? Itulah letupan kesimpulan yang pelan-pelan memenuhi relung akal Nyakra.

Nyakrawati kembali bernegosiasi. Ia mulai memilah dan memilih siapa yang harus ia bunuh dan siapa yang harus ia sisakan. Strategi macam apa yang bisa dilakukan oleh dirinya yang berdiri sendirian di hadapan ratusan musuh? Ia pikir seandainya seluruh orang mati di sini karena saling bunuh-membunuh, maka tetap harus ada satu orang yang selamat agar bisa mengabarkan pada negara ini bahwa Topi Jerami adalah organisasi kumpulan penjahat yang harus mati pertama kali, diperangi rakyat sendiri, jika memang rakyat masih bermimpi merdeka atas tanah air.

“Baik… mari kita bertarung! Tapi aku mohon pada kalian. Bebaskan 1 orang awam yang sama sekali tidak pernah paham teknik pertarungan dan perburuan. Bebaskan ia tanpa dipermainkan dengan tenggat waktu dan ranjau-ranjau kalian! Antarkan ia sampai dermaga dengan selamat. Saya minta Sadiah, tukang masak, si pedagang gorengan itu keluar dari pulau ini!” Suruh Nyakrawati pada Kapten Jayakarta.

“Oke… Sadiah!!! Kamu cepatlah keluar dari pulau ini. Jika di jalan kamu mendapatkan kesulitan karena bertemu dengan orang-orang jahat seperti kami, tunjukkan saja lencana kemenanganku ini.” Ujar Kapten Jayakarta sembari melepas lencana oktagon dari seragamnya. Ia memberikan lencana itu pada Nyakra sambil memberi kode dengan mata dan seringai senyumnya, agar Nyakra langsung memberikan lencana itu pada Sadiah.

Meskipun Nyakrawati tidak tahu arti dari kedipan mata dan seringai senyum itu. Nyakra merasa inilah kesempatan buat membisiki kalimat terakhir dengan sahabat terbaiknya selama bergabung menjadi murid dan pasukan elit di Padepokan Topi Jerami. Ia mengambil lencana itu, lalu berjalan mundur kembali ke arah Sadiah yang masih berdiri di samping jenderal besar.

“Diah… aku percaya padamu… karena kamu satu-satunya yang datang ke mari bukan karena ingin mengambil cincin itu. Kamu datang karena kekhawatiranmu padaku. Kamulah yang harus hidup dan melanjutkan perjuanganku. Larilah secepat-cepatnya dan jadikanlah hari ini sebagai hari pertama kamu menjadi pasukan elit tanpa kesatuan manapun! Kamu hanya harus membela tanah air ini dan menjadi tentara Allah. Kamu bekerja hanya untuk Allah dan mati karena Allah. Setelah kamu keluar dari sini, pergilah ke rimba borneo. Masuklah ke markas rahasiaku untuk mengambil berkas! Pisau ini adalah kuncinya.” Ucap Nyakra sembari berkaca-kaca matanya karena menahan kesedihan. Nyakrawati memasangkan lencana oktagon pemberian Kapten Jayakarta pada baju gadis pedagang gorengan ini.

“Kakak… aku harap kamu bisa bertahan hidup. Aku juga akan bertahan hidup dan menunggu hari pertemuan kita lagi. Ingatlah bahwa sekarang kamu sendirian di rimba hutan ini! Jadi jangan pernah lagi percaya pada orang! Termasuk orang yang paling kamu cintai dan hormati! Percayalah hanya kepada Allah dan takutlah hanya kepada Allah…!”

Usai mengucapkan kalimat perpisahan ini, Sadiah berlari keluar dari zona konflik itu untuk melanjutkan perjalanan menuju kehidupan di luar sana, di pulau yang jauh, di mana Athara Ambaudhenda Nyakrawati menitipkan harapan. Petualangan hidup Sadiah pun dimulai, petualangan yang tidak pernah dibayangkan olehnya, terjadi dengan cara yang begitu menyedihkan seperti ini. Ia tak pernah membayangkan, kepergiannya menjemput Nyakrawati, justru malah berujung perpisahan begini.